Oleh: Fatkur Rohman, M.Pd.I
Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bidang Dakwah
Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah cermin ideologi, hasil tafsir, dan kadang alat kepentingan. Dalam persepsi umum, sejarah dianggap merekam peristiwa apa adanya. Namun, sesungguhnya sejarah bukanlah sesuatu yang netral. Ia ditulis oleh manusia, dan manusia selalu membawa pandangan, keyakinan, serta kepentingan tertentu.
Mari kita tengok satu contoh: Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles. Dalam banyak buku sejarah dan literatur populer, Raffles digambarkan sebagai sosok reformis, ilmuwan, dan pengagum budaya Timur. Ia disebut sebagai pendiri Kebun Raya Bogor, penemu kembali Candi Borobudur, bahkan dikaitkan dengan bunga raksasa yang konon ia "temukan" di Sumatera Rafflesia arnoldii—yang kini diklaim menjadi identitas Bengkulu.
Namun, jika sejarah ditulis dari kacamata bangsa terjajah, gambaran Raffles akan sangat berbeda. Ia bisa disebut sebagai simbol kolonialisme Inggris, tokoh eksploitasi sumber daya alam dan manusia Nusantara. Kebijakan tanam paksa, sistem perpajakan yang menindas, dan pengambilan kekayaan lokal tak bisa dilepaskan dari masa pemerintahannya. Ia bukan pahlawan, melainkan bagian dari sistem penjajahan yang menyengsarakan.
Apa yang terlihat di sini? Penilaian terhadap tokoh sejarah sangat tergantung dari siapa yang menulis, dan untuk kepentingan siapa sejarah itu dituturkan. Jika ditulis oleh penjajah, maka penjajah bisa tampak sebagai penyelamat. Tapi jika ditulis oleh pejuang kemerdekaan, maka penjajah adalah musuh yang harus dikenang sebagai pelajaran perlawanan.
Fenomena ini tak hanya terjadi pada Raffles. Tokoh dunia seperti Soekarno, Che Guevara, Karl Marx, bahkan Pangeran Diponegoro dan Sultan Hasanuddin mengalami hal serupa. Ada versi-versi sejarah yang memuliakan mereka, ada pula yang mencela, tergantung dari ideologi dan orientasi politik si penulis sejarah.
Dalam konteks Bengkulu hari ini, perdebatan antara penyebutan “Bumi Rafflesia” dan “Bumi Merah Putih” bukan semata soal nama. Ia adalah cermin arah pandang terhadap identitas dan masa depan daerah ini. Gubernur sebelumnya masih mengangkat narasi “Bumi Rafflesia” merekonstruksi citra daerah lewat figur kolonial. Sedangkan gubernur saat ini mulai menggeser ke narasi “Bumi Merah Putih” sebuah simbol nasionalisme, persatuan, dan kebanggaan sebagai bagian utuh dari Republik Indonesia.
Inilah momen penting bagi warga Bengkulu untuk memilih narasi yang ingin diwariskan. Apakah kita akan terus mengikat identitas kita dengan nama yang mewakili masa penjajahan, atau justru membumikan “Bumi Merah Putih” sebagai pernyataan bahwa Bengkulu adalah bagian tak terpisahkan dari semangat nasional, semangat kemerdekaan, dan semangat persatuan?
“Bumi Merah Putih” bukan sekadar nama. Ia adalah pesan moral, arah identitas, dan bentuk penghormatan terhadap darah para pejuang yang mengalir di tanah ini. Di tanah ini pernah diasingkan Proklamator Bangsa. Di bumi ini, semangat melawan penjajahan pernah menyala terang. Maka, mengapa kita ragu menanamkan semangat merah putih hingga ke akar budaya kita?
Kesimpulannya, sejarah akan terus ditulis dan ditafsirkan. Tapi sebagai warga Bengkulu, kita punya pilihan: menjadi penonton narasi, atau menjadi penentu arah cerita. Sudah saatnya kita menulis ulang sejarah kita sendiri dengan keberanian, dengan kebanggaan, dan dengan semangat Merah Putih yang menyatu di dada kita.
“History is written by the victors.” Tapi hari ini, sejarah Bengkulu ditulis oleh pemenangnya dan nasionalisme ini dipertahankan oleh anak-anak Bengkulu sendiri.
Oleh: Fatkur Rohman, M.Pd.I
Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Bidang Dakwah