TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Universitas Bengkulu (Unib) menunjukkan kepedulian dan komitmen nyata dalam merespons bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra. Tidak hanya bergerak dalam misi kemanusiaan ke daerah terdampak, Unib juga mengambil langkah konkret dengan memberikan kebijakan afirmatif bagi mahasiswa internal yang menjadi korban bencana.
Rektor Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa pihak universitas telah melakukan pendataan dan verifikasi terhadap mahasiswa Unib yang terdampak bencana alam di berbagai daerah. Berdasarkan hasil pendataan tersebut, tercatat sebanyak 26 mahasiswa mengalami dampak bencana dengan tingkat kerusakan yang beragam, mulai dari kategori ringan hingga berat.
“Dari hasil verifikasi yang telah dilakukan, terdapat 26 mahasiswa Unib yang terdampak bencana. Untuk 11 mahasiswa yang masuk kategori terdampak berat, pada semester genap Tahun Akademik 2025/2026 akan diberikan pembebasan atau keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT),” tegas Prof. Indra.
Kebijakan pembebasan UKT ini merupakan bentuk keberpihakan institusi pendidikan terhadap mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi akibat bencana. Rektor menegaskan bahwa Unib ingin memastikan para mahasiswa tetap dapat melanjutkan studi tanpa terbebani masalah finansial pascabencana.
Selain keringanan UKT, Unib juga memfasilitasi pendataan 26 mahasiswa terdampak tersebut untuk mendapatkan bantuan biaya hidup atau living cost dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Bantuan tersebut direncanakan akan disalurkan melalui Gubernur Bengkulu sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam menangani dampak sosial bencana.
Tidak hanya fokus pada bantuan internal, Universitas Bengkulu juga aktif terlibat dalam misi kemanusiaan ke wilayah terdampak di luar Provinsi Bengkulu. Unib secara resmi melepas tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kemanusiaan yang akan bertugas di Sumatera Barat. Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Universitas Andalas (Unand) dan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).
“Hari ini kita melepas sebanyak 20 mahasiswa untuk mengikuti KKN Kemanusiaan. Mereka berasal dari tujuh fakultas dan akan bergabung dengan mahasiswa Universitas Andalas di Sumatera Barat,” ujar Prof. Indra.
Para mahasiswa tersebut dijadwalkan menjalankan tugas kemanusiaan selama satu bulan, mulai pertengahan Desember hingga 19 Januari. Fokus kegiatan mereka adalah membantu proses pemulihan pascabencana, termasuk pendampingan masyarakat, kegiatan sosial, serta dukungan psikososial di wilayah yang terdampak cukup parah.
Selain menerjunkan mahasiswa, Unib juga mengirimkan tim medis ke Provinsi Aceh. Tim ini terdiri dari dosen dokter, apoteker, serta mahasiswa koas dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Mereka akan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana.
Pejabat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unib, Suharyono, menjelaskan bahwa tim medis tersebut dilengkapi dengan obat-obatan dan peralatan kesehatan yang didukung oleh kementerian terkait. “Tim pengabdian masyarakat bidang kesehatan ini terdiri dari dokter dan apoteker. Mereka membawa obat-obatan serta peralatan untuk mendukung misi kemanusiaan di lokasi bencana,” jelasnya.
Melalui langkah-langkah ini, Universitas Bengkulu menegaskan perannya tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai agen kemanusiaan yang hadir dan peduli terhadap masyarakat serta mahasiswa di tengah situasi darurat bencana.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra