TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>> Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) resmi meluncurkan program budidaya maggot sebagai langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah organik yang terus meningkat di wilayah perkotaan. Program tersebut dirancang sebagai solusi cepat dan terintegrasi dengan konsep ekonomi sirkular yang tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Kepala DLH Kota Bengkulu, Anshar Amin, menjelaskan bahwa metode budidaya maggot dinilai jauh lebih efektif dibandingkan sistem pengolahan sampah organik secara konvensional seperti pengomposan biasa. Dengan memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF), proses penguraian sampah dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.
“Kalau pengomposan biasa membutuhkan waktu berbulan-bulan, maggot mampu mengurai sampah organik hanya dalam hitungan jam. Ini menjadi solusi cepat yang sangat potensial untuk menekan volume sampah di Kota Bengkulu,” ujar Anshar Amin.
Menurutnya, persoalan sampah saat ini menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak. Karena itu, DLH tidak hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan sampah semata, tetapi juga mulai mendorong pola pengelolaan berbasis pemanfaatan kembali agar memiliki nilai ekonomis.
Program budidaya maggot ini nantinya akan memanfaatkan sampah rumah tangga organik seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan untuk dijadikan pakan maggot. Selanjutnya, maggot hasil budidaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan lele yang bernilai tinggi.
Anshar mengatakan konsep tersebut menjadi bagian dari penerapan ekonomi sirkular yang saat ini mulai didorong pemerintah di berbagai daerah. Melalui sistem itu, sampah tidak lagi dianggap limbah yang tidak berguna, tetapi diubah menjadi sumber daya produktif yang mampu mendukung ketahanan pangan masyarakat.
“Ini konsep ekonomi sirkular. Sampah organik diolah menjadi maggot, kemudian maggot menjadi pakan ikan lele. Hasilnya bisa dimanfaatkan masyarakat sekaligus mendukung upaya penanganan stunting melalui konsumsi ikan bergizi,” jelasnya.
Selain mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, program ini juga diyakini dapat membantu masyarakat menekan biaya pakan budidaya ikan yang selama ini cukup tinggi. Dengan demikian, masyarakat berpotensi memperoleh tambahan penghasilan dari pengelolaan sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi.
Untuk memastikan program berjalan optimal dan berkelanjutan, DLH Kota Bengkulu menggandeng akademisi serta komunitas lingkungan hidup guna memberikan edukasi dan pendampingan langsung kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran warga agar lebih aktif memilah sampah sejak dari rumah tangga.
“Kami sudah berkomunikasi dengan akademisi dan komunitas lingkungan agar program ini tidak hanya berjalan di pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama masyarakat melalui pengabdian dan edukasi langsung,” katanya.
DLH juga menyiapkan agenda sosialisasi dan advokasi secara masif mulai 19 Mei 2026. Kegiatan itu akan menyasar tingkat kecamatan, kelurahan hingga lingkungan RT agar masyarakat memahami tata cara pemilahan sampah organik dan pengelolaannya melalui budidaya maggot.
Pemerintah Kota Bengkulu berharap program tersebut dapat menjadi gerakan kolektif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Dengan keterlibatan aktif warga, persoalan sampah yang selama ini menjadi keluhan di berbagai kawasan perkotaan diharapkan bisa ditekan secara signifikan.
Anshar menegaskan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut. Menurutnya, pengelolaan sampah harus mulai menjadi bagian dari budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar kegiatan sesaat atau program pemerintah semata.
“Target kami ke depan, pemilahan sampah bukan lagi sekadar program, tetapi menjadi gaya hidup baru masyarakat Kota Bengkulu. Kalau ini berjalan konsisten, persoalan sampah bisa berkurang signifikan,” tutup Anshar.
Program budidaya maggot ini pun diharapkan mampu menjadi percontohan pengelolaan sampah modern berbasis pemberdayaan masyarakat di Kota Bengkulu, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra