Skip to main content

ICC 12.0 Resmi Ditutup, Ratusan Pelajar Adu Kreativitas di Bengkulu

ICC 12.0 Resmi Ditutup, Ratusan Pelajar Adu Kreativitas di Bengkulu

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Ajang kreativitas pelajar bertajuk Iqra Creatifiesta Competition (ICC) 12.0 resmi berakhir setelah ditutup oleh Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar, di SMA IT Iqra Kota Bengkulu, Kamis (12/2). Penutupan ini menandai puncak dari rangkaian kegiatan kompetisi tahunan yang selama beberapa hari terakhir menjadi magnet bagi ratusan siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara penutupan berlangsung meriah dengan dihadiri sejumlah unsur penting, mulai dari perwakilan Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu yang diwakili Kepala Bidang SMA Erni Septiyani, M.Pd., pengawas sekolah, perwakilan kepolisian dari Polsek Ratu Agung, hingga jajaran yayasan dan manajemen SMA IT Iqra. Hadir pula Pembina Yayasan Al-Fida Hamdani Nasution, S.Pd., Komisaris PT Berkah Iqra Group Dr. Dani Hamdani, M.Pd., Ketua Yayasan Al-Fida Dr. Sutrisno, M.TPd., Kepala SMA IT Iqra Rusli Supriatna, S.Pd., beserta panitia dan seluruh peserta.
Dalam sambutannya, Khairil Anwar menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi SMA IT Iqra yang setiap tahun mampu menyelenggarakan kegiatan kreatif berskala nasional. Menurutnya, ICC bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang pembelajaran yang melatih keberanian, kepercayaan diri, serta kemampuan berkolaborasi antarpelajar.

Ia juga menyoroti tema ICC 12.0, yaitu “Menjejak Nada Klasik Menggema Sepanjang Zaman”, yang dinilai memiliki filosofi mendalam. Tema tersebut dianggap merepresentasikan perjalanan panjang budaya bangsa yang sarat nilai sejarah, identitas, serta semangat persatuan.

“Melalui nada klasik, kita diajak mendengar kembali suara masa lalu yang penuh makna. Di dalamnya ada kisah perjuangan, kesederhanaan, dan kearifan lokal yang patut diwariskan kepada generasi muda,” ujar Khairil.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, generasi muda tidak boleh tercerabut dari akar budaya, meskipun teknologi dan tren global terus berkembang pesat. Pendekatan retro, visual bernuansa vintage, serta konsep kebersamaan yang diusung ICC dinilai menjadi sarana efektif untuk menanamkan kesadaran tersebut.

Khairil juga berharap ajang ICC dapat terus berperan sebagai inkubator bakat dan karakter pelajar, khususnya di Provinsi Bengkulu. Ia mendorong agar kegiatan semacam ini tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi berlanjut menjadi program pembinaan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala SMA IT Iqra Rusli Supriatna mengungkapkan bahwa ICC 12.0 diikuti sebanyak 564 peserta yang tergabung dalam 83 tim, berasal dari jenjang SMP dan SMA. Menariknya, peserta tidak hanya datang dari wilayah Bengkulu, tetapi juga dari luar provinsi, bahkan terjauh berasal dari DKI Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa ICC telah memiliki daya tarik nasional.
“Partisipasi dari berbagai daerah menjadi bukti bahwa ICC semakin dikenal luas. Kami bersyukur karena ajang ini bisa menjadi ruang silaturahmi sekaligus adu kreativitas antar pelajar,” kata Rusli.

Ia menambahkan, lomba yang digelar mencakup berbagai bidang, mulai dari seni pertunjukan, desain, hingga konten kreatif. Seluruh kategori dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, inovasi, dan kerja tim.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Al-Fida Dr. Sutrisno menegaskan bahwa pihak yayasan berkomitmen mendukung penuh kegiatan positif yang mampu membangun karakter generasi muda. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang akademik, tetapi juga tentang pembentukan kepribadian, etika, serta kepekaan sosial.

Dengan berakhirnya ICC 12.0, diharapkan semangat kreativitas yang telah terbangun tidak berhenti di panggung lomba semata. Para peserta diharapkan mampu membawa pengalaman ini ke lingkungan sekolah masing-masing, sehingga mampu menjadi agen perubahan yang inspiratif di tengah masyarakat.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra