TEROPOINGPUBLIK.CO.ID <<>> Kunjungan kerja Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, ke Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) menjadi momen istimewa, tidak hanya karena agenda utamanya yang strategis, tetapi juga karena kejutan simbolis yang ia terima dari dua tokoh penting di Bengkulu.
Dalam kesempatan tersebut, Raja Juli menerima dua hadiah istimewa. Pertama, tongkat kesayangan dari Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, yang dikenal sebagai simbol kepemimpinan dan kedekatan budaya. Kedua, pin merah putih yang disematkan langsung oleh Wali Kota Bengkulu sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan dan komitmen sang menteri terhadap kemajuan daerah.
Momen penyerahan pin merah putih itu tidak sekadar simbol seremonial. Pin tersebut memiliki makna mendalam, mengingat Bengkulu dikenal luas sebagai “Bumi Merah Putih”. Julukan ini bukan tanpa alasan. Kota Bengkulu memiliki nilai historis yang kuat terhadap lahirnya simbol negara, yakni bendera merah putih.
Sebagaimana dicatat dalam sejarah bangsa, Ibu Fatmawati—istri Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno—adalah sosok yang menjahit bendera merah putih pertama. Fatmawati merupakan putri asli Bengkulu, dan perannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia begitu vital. Oleh karena itu, ketika berbicara tentang Merah Putih, Bengkulu menjadi salah satu titik penting yang tak bisa dilewatkan.
"Pin ini bukan sekadar lambang. Ia membawa pesan perjuangan, semangat nasionalisme, dan bukti bahwa Bengkulu memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa," ujar Wali Kota Bengkulu saat menyerahkan pin merah putih tersebut.
Sebelumnya, Gubernur Helmi Hasan juga menyerahkan tongkat kesayangannya kepada Menteri Raja Juli sebagai bentuk penghargaan dan simbol kepemimpinan. Helmi Hasan dikenal kerap membawa tongkat tersebut dalam berbagai kesempatan sebagai lambang kebijaksanaan dan kearifan lokal.
“Ini adalah tanda bahwa kami menyambut kehadiran Pak Menteri dengan penuh rasa hormat dan persaudaraan. Tongkat ini telah menemani saya dalam banyak perjalanan, dan kini saya serahkan sebagai bentuk kepercayaan,” ujar Helmi Hasan saat memberikan tongkat itu.
Raja Juli tampak terharu dan menyampaikan rasa syukurnya atas sambutan hangat yang ia terima di Bengkulu. “Saya merasa sangat dihargai. Dua simbol yang saya terima hari ini—tongkat dari Pak Gubernur dan pin dari Pak Wali Kota—sangat bermakna bagi saya secara pribadi. Ini menjadi kenangan yang tidak akan saya lupakan,” ungkapnya.
Selain momen simbolis tersebut, kunjungan Raja Juli Antoni ke Universitas Muhammadiyah Bengkulu memiliki tujuan strategis, yaitu menandatangani Surat Keputusan (SK) terkait Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk UMB. Penetapan kawasan KHDTK ini akan memperkuat kapasitas UMB dalam kegiatan penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat yang berbasis pada pengelolaan hutan lestari.
KHDTK sendiri merupakan kebijakan penting Kementerian Kehutanan untuk memberikan hak pengelolaan kawasan hutan kepada institusi pendidikan dan penelitian. Melalui kebijakan ini, Universitas Muhammadiyah Bengkulu diharapkan mampu mengembangkan potensi hutan sebagai laboratorium alam, pusat riset, serta tempat pembelajaran yang aplikatif bagi mahasiswa dan peneliti.
Rektor UMB menyambut baik penetapan KHDTK tersebut dan menyatakan siap mengoptimalkan kawasan tersebut untuk mendukung program kampus berbasis lingkungan. “Ini langkah besar bagi kami. Dengan dukungan pemerintah pusat, kami yakin UMB akan menjadi pusat keunggulan dalam pendidikan kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam,” ujar Rektor.
Kehadiran Menteri Kehutanan RI di Bengkulu menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong pembangunan berbasis lingkungan dan sejarah. Dengan dukungan simbolis dan strategis ini, Bengkulu kian meneguhkan posisinya sebagai daerah yang kaya akan nilai nasionalisme sekaligus potensi sumber daya alam.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra