TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Menghadapi dinamika persaingan layanan kesehatan yang kian kompetitif, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi memberikan motivasi langsung kepada jajaran manajemen dan tenaga kesehatan Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu. Ia menegaskan bahwa tahun 2026 harus dijadikan titik balik untuk mengangkat kembali reputasi RSHD sebagai rumah sakit rujukan unggulan di tingkat regional.
Arahan tersebut disampaikan Dedy saat memberikan pembinaan kepada internal RSHD, Jumat (23/1/2026). Dalam kesempatan itu, ia menyoroti perubahan cepat yang terjadi di sektor pelayanan kesehatan, terutama munculnya rumah sakit-rumah sakit pesaing yang agresif meningkatkan fasilitas serta mutu layanan demi merebut kepercayaan masyarakat.
Menurut Dedy, perkembangan pesat kompetitor tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata, melainkan sebagai pemacu semangat untuk berbenah. Ia menilai, rumah sakit milik pemerintah harus mampu menjawab tantangan tersebut dengan kekompakan tim, profesionalisme kerja, serta komitmen kuat dalam melayani pasien.
“Tahun 2026 ini saya ingin RSHD bangkit. Kita pernah berada di posisi Regional Championship dan itu harus kita rebut kembali. Sekarang kompetitor terus berinvestasi, memperbaiki kamar dan pelayanan. Kalau kita ingin unggul, tidak ada pilihan lain selain bekerja lebih serius dan bersatu,” ujar Dedy.
Ia menambahkan, kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan alat medis, tetapi juga oleh sikap dan kecepatan pelayanan. Oleh karena itu, perubahan pola pikir dan budaya kerja menjadi kunci utama dalam menghadapi persaingan.
Dalam arahannya, Dedy juga mengutip pepatah “man jadda wajada” sebagai pengingat bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui kerja keras dan kesungguhan. Ia menilai RSHD memiliki potensi besar untuk berkembang, asalkan seluruh elemen di dalamnya memiliki visi yang sama.
Sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Kota Bengkulu, Dedy membuka peluang dukungan anggaran yang lebih besar melalui APBD pada tahun 2027. Namun, ia menegaskan bahwa dukungan tersebut bersifat berbasis kinerja. Artinya, peningkatan fasilitas dan penguatan pelayanan akan diberikan jika tren performa rumah sakit menunjukkan perbaikan yang nyata dan berkelanjutan.
“Kalau grafiknya terus naik, kalau pelayanan makin baik dan kepercayaan publik meningkat, maka di 2027 kita siap mendukung lewat APBD. Fasilitas bisa diperbesar, pelayanan bisa ditingkatkan. Ini bentuk komitmen pemerintah,” jelasnya.
Dedy juga menyinggung rencana penguatan tata kelola rumah sakit dengan hadirnya formasi baru Dewan Pengawas. Ia berharap struktur baru tersebut membawa energi positif serta pengawasan yang lebih optimal demi mendorong profesionalisme manajemen.
Tak hanya menekankan aspek struktural dan anggaran, Wali Kota Bengkulu itu turut mengingatkan pentingnya implementasi nilai-nilai pelayanan yang telah digaungkan selama ini. Ia menegaskan bahwa tagline “no jutek, no lelet, no telmi” atau yang dikenal dengan NO JULEMI harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan.
“NO JULEMI jangan berhenti di spanduk atau yel-yel. Itu harus hidup dalam sikap kita sehari-hari. Senyum, cepat, dan tanggap itu yang dirasakan langsung oleh pasien,” tegasnya.
Di akhir arahannya, Dedy mengajak seluruh keluarga besar RSHD Kota Bengkulu untuk tetap solid, menjaga kekompakan, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap rumah sakit. Ia optimistis, dengan semangat kebersamaan dan pelayanan yang humanis, RSHD mampu kembali menjadi kebanggaan masyarakat Bengkulu.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra