TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Permasalahan sampah yang dibuang sembarangan ke sungai masih menjadi pekerjaan rumah serius di Kota Bengkulu. Pemandangan tumpukan sampah plastik bekas minuman, kemasan makanan, sedotan, hingga kaleng terlihat jelas di aliran sungai utama kawasan Lempuing. Kondisi ini diperparah dengan adanya pagar pembatas di beberapa titik yang menghambat aliran air sehingga menimbulkan potensi banjir.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bengkulu, Yosep Feri Rizal, menyayangkan rendahnya kesadaran sebagian warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Menurutnya, banjir yang kerap melanda sejumlah kawasan di Bengkulu bukan semata disebabkan oleh curah hujan tinggi atau luapan sungai, tetapi juga akibat drainase serta saluran air yang tersumbat oleh sampah dan tumbuhan liar.
“Masih banyak drainase dan saluran air tertutup oleh tanah maupun semak belukar. Padahal ketika dibersihkan, kondisi konstruksinya masih cukup baik. Sayangnya, kurangnya kepedulian warga membuat saluran itu tertutup sehingga air tidak dapat mengalir dengan lancar,” ujar Yosep, Kamis (18/9/2025).
Ia menekankan pentingnya semangat gotong royong di tengah masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Salah satunya dengan rutin mengecek saluran air di sekitar tempat tinggal. Jika ditemukan tumpukan sampah, warga diimbau segera membersihkannya agar tidak menimbulkan genangan saat musim hujan.
“Kalau jalur air tertutup, sudah pasti air meluap dan menyebabkan banjir. Karena itu kami mendorong masyarakat lebih peduli, tidak membuang sampah sembarangan, serta aktif melakukan pembersihan lingkungan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yosep menjelaskan bahwa Dinas PUPR juga menyiapkan Unit Reaksi Cepat (URC) yang bertugas membantu warga mengatasi persoalan mendesak, termasuk membersihkan jalur air yang tersumbat oleh sampah besar, dahan pohon, atau benda berat lain yang sulit ditangani masyarakat. Namun, keterbatasan jumlah personel membuat tim ini tidak bisa menjangkau seluruh wilayah secara rutin.
“Kami berharap ada laporan dari masyarakat apabila menemukan hambatan besar di saluran air. Dengan begitu tim URC bisa segera turun membantu,” tambahnya.
Upaya menjaga kebersihan sungai dan drainase ini, kata Yosep, merupakan bagian dari strategi pencegahan banjir sekaligus pelestarian lingkungan. Pembersihan meliputi pengangkatan sampah, penggalian endapan lumpur, serta penebasan vegetasi liar yang tumbuh dan menyumbat aliran air.
Di akhir, ia kembali mengimbau seluruh masyarakat Kota Bengkulu untuk lebih disiplin dalam membuang sampah. “Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Jangan jadikan sungai atau drainase sebagai tempat pembuangan sampah, karena dampaknya akan kembali kepada kita sendiri,” pungkas Yosep.
Dengan kesadaran bersama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan persoalan sampah di sungai Bengkulu dapat berkurang, sekaligus mengurangi risiko banjir yang kerap menghantui kota saat musim penghujan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra