TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, kembali menegaskan pentingnya peran Remaja Islam Masjid (RISMA) sebagai benteng moral generasi muda di Kota Bengkulu. Langkah ini dinilai strategis untuk menekan berbagai perilaku negatif remaja yang belakangan semakin mengkhawatirkan, seperti geng motor hingga aksi perang sarung.
Dalam kegiatan Safari Subuh di Masjid Al Falah, Kelurahan Berkas, Dedy menyampaikan keprihatinannya terhadap perubahan gaya hidup remaja saat ini. Ia menyoroti kecenderungan anak muda yang lebih memilih menghabiskan waktu di kafe dibandingkan beraktivitas di masjid.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal penting bagi semua pihak untuk kembali menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda. RISMA diharapkan tidak hanya menjadi wadah kegiatan keagamaan, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Dedy juga menyinggung fenomena perang sarung yang sempat terjadi pada bulan Ramadan lalu. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah remaja menyalahgunakan sarung yang seharusnya digunakan untuk ibadah, justru dipakai sebagai alat tawuran.
“Banyak yang pamit dari rumah ke masjid, tapi ternyata digunakan untuk perang sarung. Bahkan ada yang memasukkan batu ke dalam sarung hingga menimbulkan korban dan berurusan dengan pihak kepolisian,” ungkapnya.
Ia menilai tindakan tersebut sudah melewati batas kenakalan remaja biasa dan perlu penanganan serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat.
Sebagai solusi, Pemerintah Kota Bengkulu menempatkan pengaktifan RISMA sebagai salah satu prioritas pembangunan non-fisik. Dedy menargetkan setiap masjid di Kota Bengkulu memiliki minimal 10 remaja aktif. Dengan jumlah masjid yang cukup banyak, hal ini diperkirakan dapat melibatkan sekitar 4.500 pemuda dalam kegiatan positif.
“Kalau sejak sekarang tidak kita arahkan, maka kita akan kehilangan generasi masa depan. Awalnya memang harus dipaksa, tapi lama-lama akan menjadi kebiasaan,” tegasnya.
Untuk memastikan program ini berjalan efektif, Dedy telah menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah wilayah, mulai dari RT, RW, lurah, hingga camat, agar ikut berperan aktif. Bahkan, keaktifan RISMA dijadikan sebagai salah satu indikator penilaian kinerja aparatur di tingkat wilayah.
Selain itu, ia juga melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) dan para penyuluh agama untuk turut melakukan pembinaan langsung kepada remaja di masjid-masjid. Tim Safari Subuh juga diminta untuk melakukan pemantauan secara berkala terhadap perkembangan RISMA di setiap wilayah.
Dedy membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi dan melaporkan jika terdapat masjid yang belum mengaktifkan kegiatan remaja. Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat penting dalam menyukseskan program tersebut.
Meski masih banyak tantangan, Dedy memberikan apresiasi terhadap beberapa wilayah yang telah berhasil mengaktifkan RISMA dengan baik. Salah satunya adalah Kelurahan Berkas yang dinilai mampu melibatkan remaja dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Bengkulu. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, RISMA diyakini mampu menjadi solusi efektif dalam membentuk generasi muda yang berakhlak dan berdaya saing.
Penguatan peran RISMA menjadi langkah konkret Pemerintah Kota Bengkulu dalam menghadapi tantangan moral generasi muda. Dengan dukungan semua pihak, masjid diharapkan kembali menjadi pusat pembinaan yang mampu mencetak generasi unggul di masa depan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra