TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<<>>>>> Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Supriadi, bersama Sekretaris DPRD Kabupaten Blitar, Haris Susianto, S.H., M.Si., menghadiri rangkaian kegiatan Ziarah Makam Leluhur dalam rangka memperingati Hari Jadi Blitar ke-702, Senin (3/8/2026).
Kegiatan ziarah tersebut menjadi salah satu rangkaian penting dalam peringatan Hari Jadi Blitar ke-702. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah Blitar, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengenang kembali nilai-nilai perjuangan, keteladanan, serta semangat yang diwariskan oleh para pendahulu.
Rangkaian ziarah diawali dengan mengunjungi Makam Aryo Blitar. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Petilasan Syekh Subakir, Makam Bung Karno, hingga Makam Pangeranan.
Setiap tempat yang dikunjungi memiliki nilai sejarah dan budaya tersendiri bagi masyarakat Blitar. Ziarah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan Blitar hingga memasuki usia 702 tahun tidak terlepas dari peran para tokoh dan leluhur yang telah memberikan kontribusi terhadap terbentuknya identitas daerah.
Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Supriadi, mengatakan kegiatan ziarah makam leluhur bukan sekadar agenda seremonial dalam rangka memperingati hari jadi. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah sekaligus menghormati jasa para pendahulu.
“Ziarah ini bukan hanya kegiatan seremonial. Ini menjadi momentum bagi kita untuk mengenang jasa para leluhur dan tokoh yang telah memberikan warna dalam perjalanan sejarah Blitar. Dari mereka kita belajar tentang perjuangan, keteladanan, kebersamaan dan bagaimana membangun daerah,” ujar Supriadi.
Menurutnya, usia 702 tahun merupakan perjalanan yang sangat panjang. Dalam rentang waktu tersebut, Blitar telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan, baik dalam bidang pemerintahan, sosial, ekonomi, budaya maupun kehidupan masyarakat.
Karena itu, peringatan Hari Jadi Blitar harus menjadi momentum refleksi bagi seluruh elemen masyarakat. Kemajuan yang telah dicapai saat ini tidak boleh membuat generasi sekarang melupakan sejarah dan akar budaya daerah.
“Sejarah harus menjadi pijakan kita dalam melangkah. Kita boleh terus berkembang dan mengikuti perubahan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu,” katanya.
Supriadi menambahkan, nilai-nilai sejarah dan budaya memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat. Semangat gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap sesama, serta kecintaan terhadap daerah merupakan nilai yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya berbicara mengenai pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi. Pembangunan juga harus memperhatikan aspek sosial dan budaya sehingga kemajuan yang dicapai tetap memiliki identitas dan karakter lokal.
“Pembangunan tidak hanya soal fisik. Kita juga harus membangun karakter masyarakat, menjaga budaya dan merawat sejarah. Kalau pembangunan berjalan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur daerah, maka kemajuan yang kita capai akan memiliki fondasi yang kuat,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, kehadiran Ketua DPRD bersama Sekretaris DPRD Kabupaten Blitar juga menjadi bentuk dukungan lembaga legislatif terhadap upaya pelestarian sejarah dan budaya daerah.
Supriadi mengatakan, DPRD memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga berbagai warisan sejarah dan budaya yang menjadi bagian dari identitas Kabupaten Blitar. Pelestarian tersebut menurutnya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
“Menjaga sejarah dan budaya adalah tanggung jawab kita bersama. Pemerintah, DPRD, tokoh masyarakat, generasi muda dan seluruh masyarakat harus ikut mengambil bagian. Jangan sampai warisan yang sangat berharga ini hilang karena tidak dikenalkan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Ia juga menilai keberadaan berbagai situs sejarah di Blitar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata sejarah dan budaya. Dengan pengelolaan yang baik, keberadaan situs-situs tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang sejarah, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengembangan sektor pariwisata.
Menurutnya, wisata sejarah memiliki daya tarik tersendiri karena memberikan pengalaman sekaligus edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Potensi sejarah dan budaya yang kita miliki sangat besar. Ini harus dirawat dan dikembangkan dengan tetap menjaga nilai sakral serta sejarahnya. Jika dikelola dengan baik, tentu bisa menjadi bagian dari pengembangan wisata sejarah dan budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Setelah rangkaian ziarah makam leluhur, kegiatan dilanjutkan dengan tasyakuran bersama yang berlangsung di Pendopo Ronggo Hadinegoro.
Tasyakuran tersebut menjadi ungkapan rasa syukur atas perjalanan panjang Blitar hingga memasuki usia ke-702. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa agar Kabupaten Blitar senantiasa diberikan keamanan, kemajuan, keberkahan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Supriadi berharap peringatan Hari Jadi Blitar ke-702 dapat menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi dan semangat bersama, bukan hanya mengandalkan pemerintah.
“Usia 702 tahun ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan. Kita harus terus bergerak bersama, menjaga persatuan dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Semoga Kabupaten Blitar semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera dan seluruh proses pembangunan mendapatkan keberkahan,” tuturnya.
Ia menegaskan, DPRD Kabupaten Blitar akan terus menjalankan fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan dengan mengedepankan kepentingan masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam perjalanan sejarah Blitar diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para penyelenggara pemerintahan dalam menjalankan amanah.
“Para leluhur telah memberikan warisan sejarah yang sangat berharga. Tugas kita sekarang adalah menjaga, melanjutkan dan mengisinya dengan pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Supriadi.
Rangkaian Ziarah Makam Leluhur dan tasyakuran tersebut pun menjadi bagian dari refleksi perjalanan Blitar selama 702 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi fondasi bagi seluruh elemen daerah untuk bersama-sama menatap masa depan Kabupaten Blitar yang lebih maju, sejahtera, berbudaya dan tetap memiliki jati diri..(ADV).
Pewarta: Agus Faisal
Editing : Adi Saputra