Skip to main content

Kesadaran Minim, TPS Liar Masih Marak di Kota Bengkulu

Kesadaran Minim, TPS Liar Masih Marak di Kota Bengkulu

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>  Masalah sampah masih menjadi tantangan serius di Kota Bengkulu. Minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan lingkungan menjadi pemicu utama menjamurnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di berbagai sudut kota. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah titik terlihat dipenuhi tumpukan sampah rumah tangga seperti plastik, pembalut sekali pakai, bungkus makanan, hingga botol minuman yang dibuang secara sembarangan.

Fenomena ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bengkulu. Pasalnya, meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan sampah, namun tanpa dukungan dan kesadaran masyarakat, upaya tersebut akan sia-sia.

Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, menyayangkan perilaku masyarakat yang masih abai terhadap kebersihan lingkungan. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menggulirkan kembali program BISA (Bersih, Indah, Sejuk, dan Asri) untuk menanggulangi masalah ini.

“Kita minta seluruh lurah aktif mengajak masyarakat di wilayahnya untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Kalau ada yang tetap membandel, kita tak segan beri sanksi,” tegas Dedy.

Menurutnya, kesadaran individu memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Ia bahkan mengaku geram saat mendapati kawasan yang baru dibersihkan kembali dijadikan TPS liar oleh warga yang tidak bertanggung jawab.

“Kalau ketahuan, saya akan minta pelakunya memungut kembali sampah yang ia buang. Ini bukan soal aturan semata, tapi kesadaran dan tanggung jawab sebagai warga kota,” ujarnya.

Dedy juga menekankan pentingnya peran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dalam membantu pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Ia menyebut, iuran pengelolaan sampah yang dikenakan melalui LPM tergolong ringan, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per bulan, atau hanya sekitar seribu rupiah per hari.

“Kalau beli rokok bisa Rp35.000 per hari, masa untuk iuran kebersihan yang manfaatnya untuk kita semua malah tak mampu? Ini demi kenyamanan bersama,” imbuhnya.

Sebagai contoh, Dedy menyinggung Singapura sebagai salah satu kota terbersih di dunia. Menurutnya, kebersihan negara tersebut bukan hanya karena aturan tegas, tetapi juga karena masyarakatnya memiliki kesadaran tinggi untuk menjaga lingkungan.

“Kalau kita ingin Bengkulu seperti Singapura, mulailah dari diri sendiri. Jangan buang sampah sembarangan,” pesan Dedy.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bengkulu, Riduan, mengajak masyarakat untuk turut serta dalam kegiatan gotong royong. Ia menilai, keterlibatan warga secara langsung akan menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

“Kami siap mengerahkan armada untuk mendukung gotong royong warga. Tapi kuncinya tetap di partisipasi masyarakat. Jika mereka sadar dan terlibat, TPS liar tak akan muncul lagi,” pungkas Riduan.

Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, harapannya Kota Bengkulu bisa menjadi kota yang bersih, sehat, dan nyaman untuk semua.

Pewarta : Amg

Editing: Adi Saputra