TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Popularitas seorang pejabat publik umumnya dibangun melalui pidato megah atau kampanye visual di ruang-ruang publik. Namun, hal berbeda justru ditunjukkan oleh Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, yang dikenal luas karena kedekatannya dengan masyarakat dalam momen-momen paling emosional, baik duka maupun bahagia.
Kedekatan itu bahkan melahirkan julukan unik dari masyarakat, yakni “Dedy Takziah”. Julukan tersebut muncul karena intensitas kehadirannya di rumah-rumah duka warga. Dalam sebuah perbincangan di Kompas.com melalui Podcast Nusaraya pada 30 Maret 2026, Dedy mengaku terhibur dengan cerita yang berkembang di masyarakat.
Ia menceritakan pengalaman lucu saat Pilkada, ketika dua orang nenek secara spontan menyebut nama “Dedy Takziah” sebagai pilihan mereka di bilik suara. Kisah itu menggambarkan betapa kuatnya kesan yang ia tinggalkan di tengah masyarakat.
Julukan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Pemerintah Kota Bengkulu di bawah kepemimpinannya menghadirkan program unggulan “4 In 1”, yakni layanan administrasi kependudukan terpadu yang diberikan langsung kepada keluarga yang sedang berduka.
Melalui program ini, dokumen seperti akta kematian, kartu keluarga (KK) terbaru, hingga perubahan status pada KTP dapat langsung diurus dan diantarkan ke rumah duka. Bahkan, Dedy kerap hadir secara langsung, khususnya pada malam ketiga takziah, untuk menyerahkan dokumen tersebut kepada keluarga.
Baginya, kehadiran pemerintah di saat-saat sulit adalah bentuk pelayanan yang paling bermakna. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan masyarakat menjadi tujuan utama dari setiap kebijakan yang dijalankan.
Tak hanya dikenal di momen duka, Dedy juga menjadi sosok yang dinantikan dalam momen bahagia warga. Dalam berbagai acara pernikahan, ia kerap hadir sebagai saksi nikah sekaligus membawa layanan administrasi instan.
Melalui inovasi tersebut, pasangan pengantin baru dapat langsung menerima dokumen kependudukan seperti KK dan KTP dengan status terbaru usai akad nikah. Bahkan, pembaruan data orang tua kedua mempelai juga dilakukan secara otomatis.
Popularitasnya sebagai saksi nikah pun terus meningkat. Jadwal kehadirannya disebut sudah penuh hingga Agustus 2026. Warga rela mengantre demi menghadirkan wali kota di hari spesial mereka, terlebih dengan tambahan fasilitas berupa mobil pengantin gratis dari pemerintah kota.
Di balik pendekatan humanisnya, Dedy tetap menunjukkan komitmen kuat dalam pembangunan fisik kota. Salah satu program prioritasnya adalah “Seribu Jalan Mulus” yang menargetkan perbaikan infrastruktur jalan secara menyeluruh.
Ia mengklaim sebagian besar jalan utama di Kota Bengkulu telah dalam kondisi baik, dengan fokus lanjutan pada jalan di kawasan perumahan. Pemerintah kota juga telah menyiapkan anggaran signifikan untuk memastikan target tersebut tercapai.
Selain infrastruktur, Dedy juga mendorong pengembangan kawasan wisata berbasis sejarah. Beberapa lokasi seperti Benteng Marlborough, kawasan Kota Tua, hingga Kampung China direncanakan menjadi destinasi heritage yang terintegrasi.
Kehadiran ruang publik baru seperti Belungguk Point diharapkan menjadi wadah bagi kreativitas anak muda sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM lokal.
Komitmen Dedy dalam membangun kota juga tercermin dalam kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Melalui program Baladewa, bayi yang baru lahir langsung mendapatkan akta kelahiran yang diantarkan ke rumah.
Di sektor pendidikan, ia melarang pungutan uang komite di tingkat SMP guna meringankan beban orang tua. Sementara di bidang kesehatan, pemerintah kota menyediakan program BPJS gratis bagi seluruh warga.
Berbagai kebijakan tersebut merupakan bagian dari visi “Religius dan Bahagia” yang diusungnya. Bagi Dedy Wahyudi, kepemimpinan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.
Dengan pendekatan yang menyentuh sisi emosional warga, ia ingin memastikan bahwa menjadi bagian dari Kota Bengkulu adalah sebuah kebanggaan sekaligus kebahagiaan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputrra