TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Keterbatasan anggaran yang dialami sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak boleh menjadi penghambat kinerja pemerintahan. Hal ini ditegaskan oleh Dedy Wahyudi yang mengingatkan jajarannya agar tetap produktif dan mampu menghadirkan terobosan meskipun berada dalam situasi fiskal yang terbatas.
Dalam arahannya pada Kamis (16/4/2026), Dedy menekankan bahwa kondisi anggaran yang minim justru harus dijadikan momentum untuk melahirkan ide-ide kreatif. Ia meminta seluruh pimpinan OPD untuk tidak terjebak pada pola kerja konvensional yang bergantung penuh pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menurutnya, tantangan keterbatasan anggaran bukanlah alasan untuk menurunkan kinerja atau bahkan menghentikan program kerja. Sebaliknya, hal ini harus menjadi pemicu bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk berpikir lebih inovatif dan mencari solusi alternatif yang efektif.
“Situasi saat ini menuntut kita untuk lebih cerdas dalam mengelola sumber daya yang ada. Jangan sampai keterbatasan ini justru membuat kita kehilangan semangat. Cari cara baru, bangun kreativitas, dan manfaatkan peluang yang ada,” ujar Dedy dalam pernyataannya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah memperkuat kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, kata dia, tidak bisa bekerja sendiri dalam menjalankan pembangunan. Dibutuhkan sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari sektor swasta hingga masyarakat luas.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan kolaboratif adalah pariwisata. Dedy menyebutkan bahwa sektor ini tidak selalu membutuhkan anggaran besar, melainkan lebih mengandalkan kreativitas serta kemampuan membangun jejaring.
Ia mendorong OPD terkait untuk aktif menjalin kerja sama dengan pelaku usaha, seperti pemilik hotel, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga komunitas lokal. Dengan melibatkan berbagai pihak, kegiatan pariwisata dapat terus berjalan dan bahkan berkembang tanpa harus membebani keuangan daerah secara signifikan.
“Jika kita mampu merangkul berbagai elemen, maka dampaknya akan jauh lebih besar. Kota akan tetap hidup, wisatawan tetap datang, dan roda ekonomi masyarakat tetap berputar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dedy juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir di kalangan ASN. Ia berharap seluruh aparatur dapat meninggalkan kebiasaan lama yang terlalu bergantung pada anggaran besar, dan mulai beradaptasi dengan pendekatan yang lebih fleksibel serta berbasis inovasi.
Menurutnya, setiap OPD harus mampu mengidentifikasi potensi yang dimiliki daerah masing-masing, kemudian mengembangkannya melalui program-program yang realistis namun berdampak nyata bagi masyarakat. Dengan cara ini, keterbatasan anggaran justru dapat melahirkan kebijakan yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa pelayanan publik harus tetap menjadi prioritas utama. Masyarakat tidak boleh merasakan penurunan kualitas layanan hanya karena kondisi anggaran yang terbatas. Oleh karena itu, efisiensi harus dilakukan secara bijak tanpa mengorbankan kepentingan publik.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pembangunan di Kota Bengkulu sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah daerah. Dengan pendekatan yang adaptif dan kolaboratif, pemerintah optimistis mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Di akhir arahannya, Dedy kembali menegaskan bahwa inovasi merupakan kunci utama dalam menghadapi situasi saat ini. Ia mengajak seluruh jajarannya untuk terus berupaya menghadirkan solusi kreatif demi kemajuan daerah.
“Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Justru dari keterbatasan inilah kita diuji untuk menjadi lebih baik dan lebih inovatif,” pungkasnya.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra