TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>>> Saat musim durian tiba di Provinsi Bengkulu, suasana kota Bengkulu semakin ramai dengan kehadiran pedagang durian di sejumlah titik strategis. Pedagang durian mulai meramaikan simpang-simpang jalan besar seperti Simpang Betungan, Simpang Kandis, Pulai Baai, Simpang Pagar Dewa, dan Simpang Kadang Limun. Salah satu lokasi yang paling ramai dipenuhi pembeli adalah area depan Stadion Sawah Lebar, yang bahkan menjalar hingga Gedung Gor Bengkulu.
Para pedagang durian ini biasanya mulai berjualan sejak sore hari hingga malam hari. Saat sore menjelang, para pembeli mulai memadati kawasan di sekitar stadion, mengunjungi pedagang untuk membeli durian. Durian yang dijual adalah hasil petani lokal Bengkulu yang dipetik langsung dari kebun mereka. Harganya bervariasi, namun tetap terjangkau oleh masyarakat, yang datang berbondong-bondong untuk membeli durian segar tersebut.
Di kawasan ini, banyak pedagang yang sudah menyiapkan tempat duduk nyaman bagi pengunjung yang ingin menikmati durian langsung di tempat. Tak hanya masyarakat Bengkulu, para pembeli datang juga dari luar kota, bahkan dari Pulau Jawa dan Palembang, untuk membawa durian sebagai oleh-oleh. Seorang pedagang durian asal Kabupaten Bengkulu Tengah, Sudarwan (43), menjelaskan bahwa banyak pengunjung yang datang dari luar provinsi hanya untuk menikmati durian khas Bengkulu.

Selain durian, ada satu produk yang juga tak pernah absen dalam penjualan durian, yaitu tempoyak. Tempoyak adalah olahan durian yang sudah difermentasi. Proses pembuatannya dimulai dengan mengupas durian, lalu menyimpannya dalam wadah kedap udara selama lebih dari seminggu. Selama proses fermentasi ini, durian akan mengeluarkan bau khas dan rasa asam yang menjadi ciri khas tempoyak.
Tempoyak kemudian bisa diolah kembali dengan berbagai bahan, yang sering digunakan sebagai bahan pelengkap pada hidangan gulai. Makanan ini menjadi warisan budaya Melayu yang populer di banyak daerah, terutama di Sumatera. Selain di Bengkulu, tempoyak dapat ditemukan di beberapa provinsi lain seperti Jambi, Aceh Selatan, dan Lampung. Meski begitu, setiap daerah memiliki ciri khas tempoyak masing-masing.
Di Palembang, tempoyak biasanya dimasak dengan bahan lain seperti ikan atau daging, bahkan dipadukan dengan pepes (brengkes). Berbeda dengan Bengkulu, masyarakat Bengkulu lebih sering memasak tempoyak dengan bahan tambahan seperti udang, ikan, dan juga dilengkapi dengan lalapan segar seperti pucuk ubi yang sudah direbus. Tempoyak ini menjadi salah satu sajian yang menggugah selera di tengah keramaian pasar durian, dan turut memperkaya budaya kuliner Bengkulu.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra