TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<>> Hari Senin ini menjadi momentum penting bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) dalam menghadapi dampak perubahan iklim global. Kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) yang dihelat di Makodim 0409 Rejang Lebong, menggandeng berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk bersama-sama mencari solusi dalam menghadapi tantangan ini.
Komsos tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Dandim 0409 Letkol. Inf. Renaldy, Plt. Kasdim Kapten. Inf. Tonny Antonny, Ketua DPRD Mahdi Husen, SH, M.Si, Staf Ahli Bupati Ir. Amrul Eby, M.Si, Wakapolres Kompol. Tekat Pramono, dan Dandi, SH dari Kejari. Dr. Brigite Manohara memandu acara sebagai moderator, sementara Asisten Teritorial KSAD Mayor Jenderal TNI Joko Hadi Susilo membuka acara.
Joko Hadi Susilo dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dan sinergi dalam menghadapi dampak perubahan iklim global. Kenaikan suhu, volume air laut, serta bencana seperti banjir, kekeringan, longsor, dan kebakaran hutan menjadi ancaman serius terhadap stabilitas keamanan.
"Saat ini, musim hujan diprediksi berlangsung pendek namun dengan intensitas yang tinggi, meningkatkan potensi bencana banjir dan longsor. Oleh karena itu, reboisasi dan penghijauan di beberapa wilayah perlu dilakukan sebagai langkah antisipatif," ungkap Joko Hadi Susilo.
Beliau melaporkan bahwa selama Januari 2024, telah terjadi 66 bencana alam di Indonesia, termasuk banjir, longsor, dan erupsi gunung api, yang berdampak pada kelangkaan pangan.
Dr. Fahri Redjab dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan dampak perubahan iklim global, prediksi, dan langkah antisipasi untuk periode 5 dan 10 tahun ke depan. Fahri menyampaikan bahwa perubahan iklim ini telah dirasakan di seluruh dunia, mempengaruhi cuaca yang tidak menentu dan berubahnya sistem bumi.
"Suhu global naik 1,4 derajat Celsius akibat naiknya efek rumah kaca, seperti gas metana dan CO2. Faktor-faktor seperti angin muson, El Niño, El Niña, dan angin dingin dari belahan bumi selatan juga ikut mempengaruhi perubahan iklim," kata Fahri.
Diketahui bahwa emisi CO2 telah naik 15 persen, sedangkan emisi gas metana naik 26,6 persen, menyebabkan perubahan iklim yang signifikan. Kejadian seperti kekeringan di Eropa, Afrika, dan Amerika serta banjir di Australia dan Afrika Selatan menjadi contoh konkret dari dampak perubahan iklim ini.
Dr. Thomas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menambahkan bahwa salah satu dampak serius adalah kebakaran hutan dan lahan akibat kekeringan. "Kekeringan mengakibatkan kelangkaan sumber daya alam dan pangan, berpotensi menyebabkan konflik di masyarakat, kerusakan infrastruktur, dan gangguan kesehatan," jelasnya.
Indonesia sendiri telah mengambil langkah-langkah antisipatif dengan menurunkan persentase gas CO2 dan gas metana melalui penanaman pohon dan penghijauan di 0,4 juta hektare lahan. Upaya ini berhasil menurunkan emisi gas hingga 31,89 persen untuk CO2 dan 17,4 persen untuk gas metana.
Target pemerintah untuk menurunkan efek rumah kaca mencapai 17 persen dari ambang batas 23 persen juga telah tercapai. Thomas menekankan bahwa kerjasama antara TNI-AD, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan sangat penting.
Pada akhir Komsos, Dandim 0409 Letkol. Inf. Renaldy mengumumkan bahwa upaya penghijauan akan terus dilakukan, termasuk penanaman pohon serentak pada 7 Februari 2024. Lokasi penanaman akan ditentukan lebih lanjut. Staf Ahli Bupati Ir. Amrul Eby, M.Si, menyatakan dukungannya terhadap upaya penghijauan ini, menekankan bahwa penanganan perubahan iklim global harus melibatkan kolaborasi dari semua pihak.
Komsos ini menjadi langkah konkret TNI-AD bersama masyarakat dan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan menghadapi dampak perubahan iklim global.
Pewarta : Gunawan
Editing : Adi Saputra