TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, meninjau langsung lokasi banjir di Jalan Merawan 7 RT 27 RW 6 Kelurahan Sawah Lebar, Senin 11/08/2025. Dalam kunjungan tersebut, Dedy menerima laporan dari warga bahwa genangan air di kawasan itu semakin parah sejak berdirinya dua sekolah, yakni SDIT Iqra dan SMAIT, di sekitar lokasi.
Sejumlah warga mengeluhkan kondisi saluran air (siring) setelah jembatan di RT 25 dan RT 26 yang dinilai terlalu kecil, sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. Akibatnya, air meluap dan menggenangi pemukiman.
Menanggapi laporan itu, Walikota Dedy meminta warga untuk tetap tenang dan tidak saling menyalahkan. Menurutnya, penyelesaian masalah banjir harus dicari secara bersama-sama.
“Posisi wilayah ini memang berupa cekungan. Warga menyampaikan banjir semakin parah sejak sekolah berdiri. Namun sekolah tersebut sudah terbangun dan tidak mungkin dirobohkan. Saat ini pemerintah sedang mencari solusi terbaik. Saya minta masyarakat tidak saling menyalahkan. Hujan itu dari Allah, sekolah sudah ada, yang penting sekarang kita fokus pada penanganan,” ujar Dedy.
Tiga Faktor Penyebab Banjir
Dedy menjelaskan bahwa banjir di Sawah Lebar disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama, curah hujan yang tinggi; kedua, letak wilayah yang berada di dataran rendah; dan ketiga, permasalahan pada sistem drainase.
“Kalau soal drainase, itu tanggung jawab pemerintah. Jika saluran tersumbat, kita akan bersihkan. Kalau terjadi pendangkalan, kita gali lagi. Jika ada pola atau desain saluran yang kurang tepat, akan kita benahi. Tapi kalau hujan deras, itu bukan kesalahan siapa pun, melainkan ketentuan Tuhan. Kita hanya bisa berdoa semoga hujan yang turun membawa berkah, bukan bencana,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dedy juga menyerahkan bantuan bagi warga terdampak banjir sebagai bentuk kepedulian pemerintah kota.
Keluhan Warga
Sarkowi, warga RT 27 yang telah lama bermukim di daerah itu, mengaku kondisi banjir memang lebih parah sejak dua sekolah tersebut berdiri.
“Dulu banjir tidak separah sekarang. Setelah ada sekolah, air sering meluap lebih tinggi,” katanya.
Hal senada diungkapkan Susilawati, warga lainnya. Ia menilai penyebab banjir juga dipicu oleh ukuran siring yang sempit di RT 25 dan RT 26.
“Siring di ujung jembatan itu kecil sekali. Kalau diperbesar atau dilebarkan, air bisa mengalir lebih lancar dan cepat surut,” ujarnya.
Di RT 27 sendiri, terdapat sekitar 15 rumah yang terdampak banjir. Salah satu di antaranya adalah rumah Ita. Ia mengatakan air sempat naik cukup tinggi pada pagi hari.
“Airnya sempat setinggi lutut. Ada 15 rumah yang kena, termasuk rumah saya,” tutur Ita.
Banjir Juga Terjadi di Beberapa Lokasi Lain
Peninjauan Walikota Dedy turut didampingi oleh Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Sahat Marulitua Situmorang, dan Kepala BPBD Kota Bengkulu, Will Hopi. Mereka memantau langsung kondisi warga sekaligus mendata kebutuhan darurat di lokasi.
Selain di Sawah Lebar, banjir juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah lain, di antaranya RT 15 Kelurahan Penurunan, serta RT 8 dan RT 10 Kelurahan Kebun Beler. Pemkot Bengkulu berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase di titik-titik rawan tersebut.
Dedy menegaskan bahwa pemerintah akan terus mencari solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang setiap musim hujan. Ia juga mengajak warga untuk berperan aktif menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta rutin membersihkan saluran air di sekitar rumah masing-masing.
“Kita semua punya peran. Pemerintah memperbaiki drainase, masyarakat menjaga kebersihan. Dengan begitu, risiko banjir bisa kita tekan,” pungkasnya.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra