Skip to main content

Fatkur Rohman Gagas Gerakan Simbolik Antikorupsi di Kampung Antikorupsi RT 30 Pekan Sabtu

Fatkur Rohman Gagas Gerakan Simbolik Antikorupsi di Kampung Antikorupsi RT 30 Pekan Sabtu

TEROPONGPUBLIK.CO.ID -Pekan Sabtu, 9 Desember 2023 Kampung Antikorupsi RT 30 RW 09 Kelurahan Pekan Sabtu, Kecamatan Selebar, bertepatan hari anti korupsi sedunia, menjadi saksi lahirnya gerakan moral berbasis warga yang dikemas secara unik dan simbolik. Dipelopori oleh Fatkur Rohman, M.Pd.I., seorang penyuluh agama yang juga menjabat Ketua RT, kampanye antikorupsi kini tidak lagi sebatas ceramah dan slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata lewat program Deklarasi Kampung Anti Korupsi dengan peluncuran GERTAK – Gerakan Kentongan Anti Korupsi Bersama Warga, Tabuh Kentongan Anti Korupsi.
Dalam penyuluhan terbuka yang digelar di teras ketua RT 30, kentongan—alat tradisional yang biasa digunakan sebagai penanda bahaya—disimbolkan ulang sebagai “alarm nurani” masyarakat terhadap potensi praktik tidak jujur, kolusi, atau ketidakadilan dalam lingkungan RT.

Fatkur Rohman Gagas Gerakan Simbolik Antikorupsi di Kampung Antikorupsi RT 30 Pekan Sabtu


 

"Kalau dulu kentongan dibunyikan kalau ada maling, sekarang kita bunyikan kalau ada yang ‘maling kepercayaan’. Jangan biarkan korupsi tumbuh di tanah yang kita pijak," tegas Fatkur di hadapan puluhan warga yang hadir.


Penyuluhan ini tak hanya edukatif, tapi juga menyentuh sisi spiritual. Disisipkan pula Doa Bersama Antikorupsi, dipimpin tokoh agama setempat, sebagai bentuk harapan agar masyarakat RT 30 diberi kekuatan menjaga amanah, kejujuran, dan kebersamaan.

peluncuran GERTAK ini menjadi kekuatan simbolik Kampung Antikorupsi RT 30. Kentongan bukan hanya alat, tetapi ajakan untuk membangun budaya baru: terbuka, adil, dan bersih.


Warga menyambut positif penyuluhan ini. Banyak yang mengaku tersentuh karena pendekatannya menyentuh hati, bukan menggurui. Tokoh masyarakat pun berharap gerakan ini bisa direplikasi di RT lain sebagai model pembinaan moral dari bawah.
Kentongan yang dipasang di setiap rumah bukan hanya simbolik, tetapi memiliki dampak nyata. Selain sebagai alarm darurat dan alat komunikasi warga, kentongan juga membentuk efek psikologis yang mencegah tindak kejahatan. Suaranya mampu menggugah solidaritas, memperkuat gotong royong, serta menjadi pengingat moral agar warga menjaga kejujuran dan kepercayaan bersama.


"Kentongan ini bukan hiasan, tapi suara nurani. Kita hidupkan kembali budaya waspada, peduli, dan bersih dari korupsi, mulai dari rumah masing-masing," ujar Fatkur Rohman.
Warga menyambut antusias program ini dan berharap menjadi contoh bagi lingkungan lainnya.(**)