TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Kota Bengkulu menjadi tuan rumah acara Diklat Pemberdayaan Masyarakat Basic Safety Training - Kapal Motor (BST - KLM) dan SKK 60 untuk Operator Kapal Tradisional yang diadakan di Hotel X-tra Bengkulu. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Politeknik Pelayaran Banten dan KSOP Kelas III Pulau Baai Bengkulu, serta dibuka langsung oleh Asisten II Pemerintah Provinsi Bengkulu, Raden Ahmad Denni.
Diklat ini menarik partisipasi dari puluhan nelayan tradisional yang berasal dari Kota Bengkulu dan beberapa kabupaten di Provinsi Bengkulu. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk mengurangi risiko kecelakaan kapal di laut melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan para nelayan dalam hal keselamatan dan penyelamatan diri.
Dalam sambutannya, Raden Ahmad Denni menekankan pentingnya diklat ini dalam menambah wawasan nelayan mengenai teknik penyelamatan saat terjadi musibah di laut. "Melalui diklat ini, peserta dapat mengetahui teknik penyelamatan diri di lautan. Musibah di lautan ini tidak kita inginkan, namun kita harus siap menghadapi alam yang sewaktu-waktu dapat mengancam kita. Semoga diklat ini melahirkan pelaut-pelaut handal," ujar Raden Ahmad Denni.
Provinsi Bengkulu, yang dikelilingi oleh lautan, memiliki potensi kekayaan alam laut yang melimpah. Potensi ini dikelola secara langsung oleh para nelayan yang sehari-hari bergantung pada laut untuk mata pencaharian mereka. Namun, keselamatan nelayan sering kali menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi nelayan tradisional yang mungkin belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam menghadapi bahaya di laut.
Untuk itu, diklat ini dirancang khusus untuk memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai teknik keselamatan laut, mulai dari penggunaan alat-alat penyelamatan hingga prosedur darurat saat menghadapi cuaca buruk atau kerusakan kapal. Materi yang diajarkan meliputi penggunaan jaket keselamatan, teknik bertahan hidup di laut, cara menggunakan rakit penyelamat, serta teknik dasar pertolongan pertama pada kecelakaan di laut.
Raden Ahmad Denni juga menekankan bahwa pemanfaatan kekayaan alam laut harus selaras dengan upaya keselamatan yang dilakukan oleh para nelayan. "Jika kita memanfaatkan kekayaan laut kita, kita harus selaraskan dengan upaya keselamatan kita. Caranya adalah dengan mengikuti diklat ini dan mempelajari ilmu yang didapatkan, lalu berbagi dengan rekan-rekan lainnya," lanjutnya.
Lebih lanjut, Denni berharap para peserta diklat tidak hanya memanfaatkan pengetahuan yang didapat untuk diri sendiri, tetapi juga menyebarkannya kepada sesama nelayan di komunitas mereka. Dengan demikian, pengetahuan tentang keselamatan laut dapat tersebar luas dan diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan laut di wilayah Bengkulu.
Selain itu, adanya diklat ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran para nelayan akan pentingnya menjaga keselamatan diri saat melaut. Keselamatan di laut bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tercipta sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas nelayan dalam upaya meningkatkan keselamatan laut.
Pelatihan keselamatan laut seperti ini sangat penting, terutama bagi nelayan tradisional yang sering kali beroperasi dengan peralatan dan kapal yang sederhana. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai, nelayan dapat lebih siap menghadapi berbagai situasi darurat di laut, sehingga dapat mengurangi risiko kecelakaan dan kehilangan nyawa.
Diklat Pemberdayaan Masyarakat Basic Safety Training - Kapal Motor (BST - KLM) dan SKK 60 ini adalah langkah positif yang diambil oleh pemerintah Provinsi Bengkulu bersama dengan Politeknik Pelayaran Banten dan KSOP Kelas III Pulau Baai Bengkulu. Diharapkan, langkah ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk turut serta mengadakan pelatihan serupa demi meningkatkan keselamatan nelayan di seluruh Indonesia.
Pewarta: Herdianson
Editing: Adi Saputra