TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Upaya menghadapi potensi bencana di Kota Bengkulu dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan satu instansi. Kolaborasi pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas kebencanaan hingga masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat pencegahan sekaligus mempercepat penanganan ketika bencana terjadi.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Kapolresta Bengkulu, Kombes Pol. Rahmad Hidayat, S.S., M.H., dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang membahas penguatan mitigasi risiko bencana di Kota Bengkulu.
FGD dengan tema “Sinergi Lintas Sektor dalam Upaya Penguatan Mitigasi Risiko Dampak Bencana di Wilayah Kota Bengkulu” tersebut berlangsung di Grage Hotel Bengkulu, Senin (14/9/2026).
Dalam forum itu, Rahmad Hidayat menilai kerja sama antarinstansi dalam menghadapi berbagai kejadian bencana selama ini telah berjalan cukup baik. Pengalaman penanganan di lapangan, menurutnya, harus menjadi modal untuk membangun sistem mitigasi yang lebih kuat dan terkoordinasi.
Ia menyebut sejumlah unsur telah menunjukkan respons bersama ketika terjadi bencana, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemadam kebakaran, kepolisian serta instansi terkait lainnya.
Menurut Rahmad, koordinasi tersebut tidak boleh berhenti ketika bencana sudah terjadi. Pola kerja bersama justru harus diperkuat sejak tahap pencegahan sehingga potensi kerugian dan korban dapat ditekan sedini mungkin.
Salah satu ancaman yang menjadi perhatian adalah kebakaran. Selain faktor kondisi lingkungan, kejadian kebakaran di sejumlah lokasi juga dapat dipicu oleh perilaku manusia yang kurang berhati-hati.
Kebiasaan membakar sampah secara sembarangan, baik di kawasan permukiman maupun lingkungan perkantoran, disebut perlu menjadi perhatian serius. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas apabila berada di lokasi yang memiliki material mudah terbakar.
Karena itu, Kapolresta Bengkulu meminta jajaran pemerintah di tingkat kecamatan dan kelurahan ikut mengambil peran dalam meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, petugas tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memadamkan api, tetapi juga harus mampu mendorong masyarakat agar memahami langkah-langkah pencegahan kebakaran.
“Bukan hanya memadamkan kebakaran, tapi inti kita adalah mencegah terjadinya kebakaran,” tegas Rahmad.
Ia juga mengingatkan bahwa ancaman bencana di Kota Bengkulu tidak terbatas pada kebakaran. Kondisi geografis Bengkulu yang berada di kawasan rawan aktivitas tektonik membuat masyarakat perlu memiliki kesadaran terhadap potensi gempa bumi.
Kesiapsiagaan, lanjutnya, harus dibangun mulai dari lingkungan keluarga. Masyarakat perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, termasuk menentukan titik evakuasi dan menyiapkan kebutuhan darurat.
Rahmad juga mendorong agar simulasi kebencanaan dilakukan secara berkala, termasuk di lingkungan pendidikan. Latihan tersebut penting agar masyarakat tidak panik dan dapat mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Salah satu langkah sederhana yang disarankan adalah menyiapkan tas bencana di rumah. Tas tersebut dapat berisi perlengkapan dasar seperti senter, makanan, obat-obatan serta dokumen penting yang diperlukan apabila warga harus meninggalkan rumah dalam situasi darurat.
Kesadaran mengenai potensi bencana, menurut Rahmad, perlu ditanamkan secara berkelanjutan. Masyarakat harus memahami bahwa mitigasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Di sisi lain, kesiapan personel juga perlu diimbangi dengan dukungan sarana dan prasarana. Peralatan operasional yang memadai akan sangat menentukan kecepatan petugas ketika harus melakukan evakuasi, pemadaman maupun penanganan kondisi darurat lainnya.
Rahmad juga menekankan pentingnya dukungan anggaran untuk menunjang kegiatan penanggulangan bencana. Dengan perencanaan yang baik, kebutuhan operasional petugas dapat dipenuhi sehingga respons di lapangan tidak terkendala.
Melalui FGD Forkopimda tersebut, penguatan komunikasi dan koordinasi lintas sektor diharapkan dapat semakin terarah. Dengan menggabungkan upaya pencegahan, edukasi masyarakat, kesiapan personel, sarana pendukung dan simulasi kebencanaan, Kota Bengkulu diharapkan semakin siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Mitigasi yang dilakukan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian material. Sebab, dalam penanggulangan bencana, kecepatan bertindak memang penting, tetapi mencegah risiko sebelum kejadian merupakan langkah yang jauh lebih strategis.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra