TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Kepala Dinas Sosial Kota Bengkulu, Sahat Marulitua Situmorang, dibuat geram saat mendapati seorang pengemis berkostum badut yang meminta-minta di simpang KM 8. Saat diperiksa, ternyata pengemis tersebut bukan warga Bengkulu, melainkan berasal dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Hal ini semakin membuat Sahat kesal karena pengemis yang bernama Hurman itu memiliki telepon genggam yang tergolong mahal.
“Kamu dari mana? Mana KTP-mu? Saya Kepala Dinas Sosial. Tahu nggak kalau mengemis itu dilarang?” tegur Sahat dengan nada tinggi saat menanyai pengemis tersebut.
Di tengah konfrontasi itu, seorang pengemis lain yang diduga rekan Hurman berhasil melarikan diri. Sementara itu, Hurman yang tampak terkejut mengakui bahwa dirinya berasal dari Lubuk Linggau dan baru berada di Bengkulu selama seminggu bersama temannya.
“Saya dari Lubuk Linggau, Pak. Kami baru seminggu di sini,” ucap Hurman sambil menunjukkan KTP-nya.
Saat melihat bahwa Hurman memiliki telepon genggam yang bagus serta kartu BPJS, Sahat semakin geram. Ia menilai kehadiran pengemis dari luar daerah merusak citra Kota Bengkulu.
“Lah, kamu punya HP bagus, ya? Itu ada BPJS juga. Kamu ini datang dari Lubuk Linggau ke Bengkulu malah merusak kota ini. Kamu kira Bengkulu tempat untuk mengemis?” ujar Sahat dengan nada marah.
Tak berhenti di situ, Sahat langsung mengambil KTP Hurman dan memerintahkannya untuk datang ke Kantor Dinas Sosial Kota Bengkulu keesokan harinya.
“Kamu bikin malu Kota Bengkulu, seolah-olah kota ini miskin. Besok datang ke kantor, KTP-mu saya bawa,” tegasnya.
Fenomena pengemis dari luar daerah yang mencari nafkah di Kota Bengkulu memang kerap menjadi perhatian pemerintah setempat. Sahat menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menertibkan pengemis di jalanan demi menjaga ketertiban kota dan menghindari citra negatif terhadap Bengkulu. Dinas Sosial juga aktif melakukan razia terhadap para pengemis, terutama yang berasal dari luar daerah, guna memberikan pembinaan agar mereka dapat mencari mata pencaharian yang lebih layak.
Kasus seperti ini bukan yang pertama kali terjadi di Kota Bengkulu. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus menindak para pengemis yang datang dari luar daerah agar mereka tidak menjadikan Kota Bengkulu sebagai tempat mencari belas kasihan. Selain itu, Dinas Sosial juga mengajak masyarakat untuk tidak memberikan uang secara langsung kepada pengemis di jalan, melainkan menyalurkan bantuan melalui lembaga resmi agar lebih tepat sasaran.
Dengan adanya tindakan tegas dari pemerintah, diharapkan Kota Bengkulu bisa terbebas dari praktik mengemis yang dilakukan oleh pendatang, serta menciptakan lingkungan yang lebih tertib dan nyaman bagi warganya.
Pewarta : Hendri Pessel
Editing : Adi Saputra