Skip to main content

Makna Jum'at Berkah di Tengah Masyarakat Modern

Makna Jum'at Berkah di Tengah Masyarakat Modern.Jumat(3/1)(** - teropongpublik.co.id)

TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>>  Ucapan “Jum’at Berkah” telah menjadi tradisi populer di kalangan umat Islam di Indonesia, terutama di era media sosial. Ucapan ini kerap diungkapkan sebagai bentuk penghormatan dan kegembiraan menyambut hari Jum’at, hari yang memiliki keutamaan khusus dalam Islam. Tidak hanya sekadar ucapan, “Jum’at Berkah” juga sering dikaitkan dengan kegiatan berbagi makanan gratis seusai shalat Jum’at di beberapa komunitas, yang menjadi bentuk nyata kepedulian sosial.

Namun, tak sedikit yang mempertanyakan hukum atau landasan syar'i dari ungkapan ini. Beberapa kalangan menganggapnya wajar sebagai bentuk syi'ar positif, sementara lainnya melihatnya sebagai sesuatu yang tak memiliki dasar dalam syariat dan menggolongkannya sebagai bid'ah. Lalu, bagaimana kita seharusnya menyikapi fenomena ini?

Menghidupkan Syi'ar Kebaikan

Secara esensial, ucapan “Jum’at Berkah” merupakan ungkapan rasa syukur dan pengingat akan keistimewaan hari Jum’at. Hari ini memiliki banyak keutamaan, seperti anjuran memperbanyak sedekah, membaca Surat Al-Kahfi, melakukan shalat Jum’at, dan memanfaatkan waktu mustajab untuk berdoa. Ucapan ini dapat menjadi sarana untuk menghidupkan nilai-nilai kebaikan tersebut di tengah masyarakat.

Dalam konteks sosial, keberadaan istilah ini juga membantu menjadikan hari Jum’at lebih istimewa. Melalui ucapan dan kegiatan yang dilakukan, umat Islam saling mengingatkan untuk melakukan amal kebaikan dan meningkatkan kualitas ibadah mereka.

Sebagai Pengingat untuk Beramal

Kesibukan aktivitas sehari-hari kerap membuat umat Islam lupa akan keutamaan hari Jum’at. Di sinilah fungsi ucapan “Jum’at Berkah” menjadi relevan. Ungkapan ini mampu menjadi pengingat untuk memanfaatkan momen hari Jum’at dengan memperbanyak amalan seperti shalawat, sedekah, dan mempersiapkan diri menjelang shalat Jum’at.

Walaupun tidak perlu dirayakan secara berlebihan atau disertai dengan atribut-atribut khusus, ucapan ini dapat menjadi perantara untuk mendorong umat Islam memaksimalkan kebaikan di hari Jum’at. Dalam praktiknya, umat Islam juga dianjurkan untuk mencontoh kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang senantiasa bersedekah, bahkan meski hanya dengan sebiji kurma, dan memperbanyak shalawat, minimal saat shalat.

Sikap Moderat

Bagi sebagian orang yang menganggap ucapan ini tidak sesuai dengan ajaran, penting untuk mengedepankan sikap bijak. Selama ungkapan “Jum’at Berkah” tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat, maka tak ada alasan untuk melarangnya. Sebaliknya, ucapan ini bisa dimanfaatkan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan semangat beribadah di hari yang penuh berkah ini.

Dengan demikian, ucapan “Jum’at Berkah” dapat menjadi sarana kebaikan asalkan dilandasi niat tulus dan digunakan sebagai pengingat untuk beramal shalih. Hal ini sejalan dengan semangat Islam yang senantiasa mendorong umatnya untuk berbuat kebajikan dan menjaga harmoni dalam keberagaman praktik keagamaan.

Oleh : Dodi Umartin, M.Pd

Sekum IKADI Kota Bengkulu