Skip to main content

Viral! Warga Sungai Lisai Gotong Royong Angkut Pasien, Ahmad Buhari Angkat Bicara

Viral! Warga Sungai Lisai Gotong Royong Angkut Pasien, Ahmad Buhari Angkat Bicara

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Sebuah video yang memperlihatkan warga Desa Sungai Lisai, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, bergotong royong menandu seorang pasien menggunakan tandu bambu viral di media sosial. Warga harus menempuh perjalanan sejauh 9,5 kilometer atau sekitar tiga jam untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat akibat tidak adanya akses jalan yang memadai.

Video tersebut memicu keprihatinan publik karena menunjukkan kondisi yang belum berubah selama lebih dari 60 tahun. Perdebatan pun muncul terkait kapan video tersebut diambil, namun warga setempat menegaskan bahwa permasalahan infrastruktur di desa mereka masih tetap sama hingga saat ini.

Ahmad Buhari, salah satu tokoh masyarakat Desa Sungai Lisai, menegaskan bahwa perdebatan mengenai waktu pengambilan video tidaklah penting. Menurutnya, baik foto lama maupun baru tetap mencerminkan kondisi yang masih sama.

"Dari dulu hingga kini, warga masih harus menggunakan tandu sebagai alternatif untuk mengevakuasi orang sakit ke fasilitas kesehatan. Ini bukan sesuatu yang kami harapkan. Kami hanya ingin diperhatikan dan mendapatkan kesetaraan dalam pembangunan seperti desa lainnya di Kabupaten Lebong," ujar Ahmad Buhari.

Desa Sungai Lisai sendiri terletak di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan dihuni sekitar 350 jiwa. Dengan jarak sekitar 1.500 meter dari desa terdekat, Desa Sebelat, keterisolasian akibat minimnya infrastruktur masih menjadi kendala utama bagi warga.

Camat Pinang Belapis, Yesik Peres, mengakui bahwa jalur tersebut merupakan satu-satunya akses yang bisa digunakan oleh warga untuk mendapatkan layanan kesehatan. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan telah berulang kali mengusulkan pembangunan akses jalan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), tetapi hingga kini belum terealisasi.

“Kami dari pemerintah kecamatan sudah sering mengusulkan pembangunan akses jalan ke Sungai Lisai dalam Musrenbang, namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemerintah daerah,” kata Yesik Peres.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Regi Raufer melalui unggahan di akun Facebook pribadinya. Dalam unggahannya, ia menuliskan bahwa warga Sungai Lisai sudah tinggal di sana jauh sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai TNKS. Ia menyoroti bagaimana warga hanya ingin merasakan kesejahteraan yang dijanjikan oleh negara.

"Kami lahir dan berdiam diri di sini jauh sebelum lahirnya TNKS. Melalui Bapak Bupati kami sampaikan kepada Bapak Presiden, tidak banyak yang kami inginkan. Kami hanya ingin merasakan sedikit dari sekian banyak yang mereka rasakan. Kami hanya ingin sedikit tahu dari berapa banyak kesejahteraan yang sering kali terdengar di telinga kami. Apakah kami bukan bagian dari NKRI?" tulis Regi Raufer dalam unggahannya.

Unggahan tersebut mendapat banyak perhatian dari netizen yang mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai rencana konkret pembangunan akses jalan ke Desa Sungai Lisai.
Pewarta: Harlis Sang Putra 
Editing: Adi Saputra