Skip to main content

Kopi Bengkulu Resmi Tembus Pasar Ekspor, Identitas Daerah Mulai Mendunia

Bupati Kepahiang Zurdi Nata menyebut ekspor tersebut memiliki arti penting bagi perkembangan kopi Bengkulu. Selama ini, kopi yang diproduksi dari sejumlah wilayah Bengkulu sebenarnya telah memiliki pasar, namun pengirimannya kerap melalui daerah lain.

TEROPONGPUBLIK.CO.ID   <<<>>>>  Komoditas kopi Bengkulu memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, kopi dari Bumi Rafflesia dilepas ke pasar ekspor dengan membawa identitas daerah sendiri. Langkah ini menjadi momentum strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi sekaligus memperluas peluang petani lokal masuk ke rantai perdagangan internasional.

Ekspor perdana tersebut dilepas Wakil Gubernur Bengkulu Ir. H. Mi'an di Halaman Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Senin (7/9/2026). Kegiatan yang difasilitasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu itu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kopi yang lebih kuat, mulai dari perkebunan hingga pasar global.

Pelepasan ekspor dihadiri sejumlah kepala daerah dan pejabat penting, di antaranya Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat, Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, Wakil Bupati Kepahiang Ir. H. Abdul Hafizh, Bupati Lebong H. Azhari, S.H., M.H., Sekretaris Daerah Kabupaten Rejang Lebong Iwan Sumantri, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Kepahiang.

Bupati Kepahiang Zurdi Nata menyebut ekspor tersebut memiliki arti penting bagi perkembangan kopi Bengkulu. Selama ini, kopi yang diproduksi dari sejumlah wilayah Bengkulu sebenarnya telah memiliki pasar, namun pengirimannya kerap melalui daerah lain.

Kondisi tersebut membuat asal komoditas Bengkulu belum sepenuhnya terlihat dalam perdagangan internasional. Karena itu, ekspor dengan menggunakan identitas Bengkulu dinilai menjadi langkah penting untuk memperkenalkan daerah penghasil secara lebih jelas.

Menurut Zurdi, keberadaan identitas daerah dalam perdagangan ekspor bukan hanya persoalan nama. Lebih jauh, hal itu dapat menjadi pintu untuk meningkatkan posisi tawar komoditas sekaligus memperbesar potensi nilai tambah yang diterima daerah dan petani.

Ia berharap momentum ekspor perdana tersebut dapat menjadi awal dari kegiatan ekspor kopi yang dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Penguatan sektor kopi juga dilakukan melalui kolaborasi tiga daerah sentra produksi. Pada kesempatan yang sama, Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong menandatangani kerja sama antardaerah untuk memperkuat pengembangan komoditas kopi.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun sinergi dalam peningkatan produksi, kualitas, pengolahan dan pengembangan pasar. Kolaborasi dinilai penting karena pengembangan kopi tidak dapat dilakukan hanya oleh satu wilayah.

"Melalui kerja sama antardaerah ini saya berharap menjadi jalan sinergi antar daerah. Saya yakin dengan kerja sama ini produksi kopi akan semakin kuat dan meningkat," ujar Zurdi.

Selain mengejar peningkatan produksi, pemerintah daerah juga menaruh perhatian terhadap kualitas hasil perkebunan. Pasalnya, pasar ekspor membutuhkan produk yang memenuhi standar tertentu, baik dari sisi bahan baku maupun proses pengolahannya.

Pemkab Kepahiang telah menjalankan sejumlah program untuk mendorong peningkatan kapasitas petani. Salah satunya melalui perlombaan kebun kopi yang sekaligus menjadi sarana edukasi bagi petani dalam mengelola perkebunan secara lebih baik.

Petani juga diberikan pengetahuan mengenai pengelolaan lahan hingga proses pengolahan hasil panen. Pemerintah daerah turut menyiapkan percontohan penggunaan bibit unggul untuk mendorong produktivitas perkebunan.

Kebun yang berhasil dalam perlombaan diharapkan dapat menjadi lokasi pembelajaran bagi petani lainnya. Dengan pola tersebut, praktik perkebunan yang baik dapat diterapkan secara lebih luas.

Rangkaian kegiatan ekspor perdana juga diisi dengan agenda Bincang Kopi serta penyerahan bibit kopi secara simbolis. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan komoditas tidak hanya berorientasi pada pasar akhir, tetapi juga memperkuat sektor hulu.

Bagi Bengkulu, terbukanya jalur ekspor langsung menjadi peluang untuk membangun citra kopi daerah di pasar internasional. Namun, keberlanjutan ekspor akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga kontinuitas produksi, kualitas dan konsistensi pasokan.

Zurdi menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Bank Indonesia yang telah memberikan dukungan terhadap pengembangan kopi hingga terealisasinya ekspor perdana dengan identitas Bengkulu.

Ke depan, sinergi pemerintah daerah, petani, pelaku usaha, perbankan dan lembaga terkait diharapkan semakin diperkuat. Dengan rantai pasok yang terintegrasi, kopi Bengkulu tidak hanya dikenal sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga menjadi produk unggulan daerah yang memiliki daya saing di pasar dunia.

Ekspor perdana ini akhirnya membawa satu harapan besar: semakin jauh kopi Bengkulu melangkah ke pasar global, semakin besar pula manfaat ekonomi yang kembali kepada para petani yang selama ini menjadi fondasi utama komoditas tersebut.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra