Skip to main content

Menteri Agama Nasaruddin Umar Pimpin Pelepasan Satwa di Danau Dendam Tak Sudah, Tekankan Nilai Spiritual Pelestarian Alam

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menghadiri pelepasan satwa endemik di Danau Dendam Tak Sudah Bengkulu, menegaskan pentingnya menjaga lingkungan sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>>  Upaya pelestarian lingkungan kembali mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menghadiri langsung kegiatan pelepasan satwa endemik di kawasan Danau Dendam Tak Sudah, Kamis (23/4/2026).

Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.

Acara ini turut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Herwan Antoni, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi, Kapolda Bengkulu Irjen Pol Mardiyono, serta berbagai unsur masyarakat dan tokoh agama. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan bahwa isu lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan menjadi kepedulian bersama.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi. Dalam pidatonya, ia menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kehadiran Menteri Agama di Kota Bengkulu yang dikenal sebagai Bumi Merah Putih. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi wisata alam sekaligus kawasan konservasi yang dimiliki daerahnya.

Dedy menjelaskan bahwa Danau Dendam Tak Sudah merupakan kawasan cagar alam yang telah ditetapkan sejak masa kolonial Belanda pada tahun 1936. Kawasan ini memiliki nilai ekologis tinggi dan menjadi habitat berbagai satwa endemik yang perlu dijaga kelestariannya. Ia berharap kegiatan ini mampu meningkatkan perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian lingkungan di Bengkulu.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Selain menjaga alam, kegiatan ini juga memperkenalkan potensi wisata Bengkulu kepada pemerintah pusat,” ujarnya.

Memasuki inti acara, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari ajaran spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

Menurutnya, hubungan manusia dengan alam harus dilandasi rasa tanggung jawab dan kesadaran bahwa alam adalah titipan Tuhan yang wajib dijaga. Ia juga menekankan bahwa tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan, melindungi satwa, dan merawat ekosistem merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai keagamaan.

“Merawat alam adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta. Melepaskan burung ke habitatnya dan menebarkan benih ikan merupakan simbol kepedulian kita terhadap bumi,” ungkap Nasaruddin.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan burung ke alam bebas serta penebaran bibit ikan di perairan danau. Prosesi ini dilakukan langsung oleh Menteri Agama bersama para pejabat dan undangan yang hadir. Suasana berlangsung khidmat, penuh makna, dan disambut antusias oleh masyarakat yang turut menyaksikan.

Kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam menjaga populasi satwa serta keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut. Pelepasan satwa diharapkan dapat membantu menjaga rantai makanan alami, sementara penebaran ikan berfungsi mendukung keberlanjutan sumber daya perairan.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga memiliki dampak edukatif bagi masyarakat. Dengan keterlibatan langsung berbagai elemen, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menciptakan keberlanjutan lingkungan hidup.

Pemerintah berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di Bengkulu, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Dengan demikian, pelestarian lingkungan dapat menjadi gerakan bersama yang berakar dari nilai spiritual, sosial, dan budaya.

Melalui kegiatan ini, pesan kuat yang ingin disampaikan adalah bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari ibadah dan bentuk tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra