Skip to main content

Pengalaman Rio Wartawan Bengkulu di Porwanas XIV: Menjelajahi Keindahan dan Kekayaan Budaya Kalimantan Selatan

Pengalaman Rio Wartawan Bengkulu di Porwanas XIV: Menjelajahi Keindahan dan Kekayaan Budaya Kalimantan Selatan.Jumat(23/8)(AMG - teropongpublik.co.id)

TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Rio Susanto, seorang wartawan foto dari Surat Kabar Harian Bengkulu Ekspress yang merupakan bagian dari Rakyat Bengkulu Media Group (RBMG), merasakan pengalaman yang tak terlupakan saat mengikuti Lomba Jurnalistik dalam ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) Ke-XIV tahun 2024 di Banjarmasin. Bersama dengan rekannya, Benni Bernardie, Rio menjadi salah satu dari sekian banyak wartawan yang berpartisipasi dalam ajang bergengsi ini.

Perjalanan dimulai pada dini hari dari Kota Banjarmasin, dengan tujuan akhir yang tidak biasa—Geo Park Meratus di Desa Blangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam perjalanan yang memakan waktu seharian penuh, rombongan harus menghadapi berbagai tantangan yang menjadikan pengalaman ini begitu mendalam dan penuh makna.

Rio mengisahkan, perjalanan dimulai dengan perjalanan darat menggunakan bus selama empat jam menuju Dermaga Riam. Perjalanan ini melewati pemandangan alam yang eksotis, dengan jalan yang berliku-liku di antara perbukitan dan lembah, memberikan kesempatan bagi para peserta untuk menikmati keindahan alam Kalimantan Selatan. Namun, tantangan sebenarnya baru dimulai ketika mereka harus melanjutkan perjalanan dengan perahu klotok selama satu setengah jam menyusuri Sungai Riam.

Sungai Riam, yang merupakan satu-satunya jalur transportasi menuju Geo Park Meratus, menawarkan sensasi petualangan tersendiri. Dengan aliran air yang deras dan lebar sungai yang cukup menantang, perjalanan menggunakan perahu klotok ini memberikan pengalaman yang luar biasa. Bagi Rio, momen ini menjadi salah satu bagian paling menegangkan sekaligus mengesankan dari seluruh perjalanan.

"Selama perjalanan dengan perahu, saya merasakan adrenalin yang tinggi. Sungai yang deras dan pemandangan alam sekitar yang begitu mempesona membuat saya merasa seperti sedang berada di dalam film petualangan," cerita Rio penuh semangat.

Setibanya di Dermaga Riam, perjalanan mereka masih belum berakhir. Para peserta kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju situs Geo Park Meratus, sebuah situs warisan alam yang dilindungi. Geo Park Meratus sendiri terkenal dengan formasi geologinya yang unik dan kaya akan keanekaragaman hayati. Dari sini, perjalanan berlanjut ke Desa Blangian, sebuah desa kecil yang terletak di tengah-tengah hutan dengan panorama yang memukau.

Desa Blangian menyimpan kisah sejarah yang menarik. Dahulu, desa ini pernah ditenggelamkan oleh pemerintah sebagai bagian dari proyek pembangunan waduk. Namun, penduduk desa kemudian direlokasi ke tempat yang lebih aman dan kini Desa Blangian telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik di Kalimantan Selatan. Para peserta disambut hangat oleh penduduk setempat dengan berbagai kegiatan budaya dan sosial yang unik.

Salah satu momen berharga yang dialami oleh para peserta adalah saat diperkenalkan dengan proses pembuatan batik sasirangan. Batik sasirangan merupakan salah satu warisan budaya khas Kalimantan Selatan yang memiliki nilai sejarah dan estetika tinggi. Dalam sesi ini, para peserta tidak hanya menyaksikan proses pembuatan batik, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mencoba sendiri teknik dasar pembuatan batik ini.

"Sangat menyenangkan bisa belajar langsung tentang proses pembuatan batik sasirangan. Ini pengalaman pertama saya dan sangat membuka wawasan tentang kekayaan budaya Kalimantan Selatan," ujar Rio, dengan penuh rasa kagum.

Tak hanya itu, para peserta juga diajak menikmati hidangan tradisional yang disajikan oleh warga desa. Hidangan ini dibuat dari bahan-bahan lokal dan diolah dengan cara tradisional yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Bagi Rio, kesempatan ini tidak hanya memberikan pengalaman kuliner yang berbeda, tetapi juga memberikan pemahaman lebih dalam tentang kearifan lokal dan tradisi yang masih kuat dipegang oleh masyarakat Desa Blangian.

"Perjalanannya sangat seru dan penuh tantangan. Kami berangkat sejak subuh dan baru kembali ke hotel saat malam. Desa Blangian ini memiliki sejarah unik, yakni desa yang pernah ditenggelamkan oleh pemerintah untuk pembangunan waduk, kemudian direlokasi ke tempat yang lebih aman. Kini, desa ini menjadi salah satu desa wisata yang menarik untuk dikunjungi," ungkap Rio.

Pengalaman mengikuti perjalanan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan wawasan Rio sebagai wartawan, tetapi juga memberikan inspirasi tentang pentingnya melestarikan budaya dan lingkungan. Melalui foto-foto yang diambil dan tulisan yang akan dibuat, Rio berharap dapat membagikan cerita yang menginspirasi banyak orang tentang keindahan dan keunikan Kalimantan Selatan, khususnya Desa Blangian yang sarat dengan nilai sejarah dan budaya.

"Semoga apa yang kami dokumentasikan dapat menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli dan melestarikan kekayaan alam dan budaya kita. Kalimantan Selatan, terutama Desa Blangian, memiliki banyak potensi yang luar biasa dan harus terus dijaga serta dikembangkan," tutup Rio penuh harap.

Kisah perjalanan ini menjadi bukti bahwa profesi sebagai wartawan tidak hanya tentang mencari berita, tetapi juga tentang menemukan dan mengapresiasi kekayaan alam dan budaya yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Melalui Porwanas XIV, Rio Susanto dan rekan-rekannya telah menorehkan cerita yang tidak akan terlupakan.
Pewarta: AMG
Editing: Adi Saputra