Skip to main content

Tangis di Tengah Api, Sumitri Selamatkan Cucu 7 Bulan dari Kebakaran

Sumitri bersama warga berupaya menyelamatkan anggota keluarga saat kebakaran melanda permukiman di Kelurahan Pengantungan, Kota Bengkulu. Sebanyak 21 rumah dilaporkan terdampak dalam peristiwa tersebut.

KOTA BENGKULU  <<<<>>>  Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman di Kelurahan Pengantungan, Kota Bengkulu. Kobaran api dengan cepat membesar dan menghanguskan sedikitnya 21 rumah warga, membuat suasana di tengah permukiman berubah menjadi kepanikan.

Di tengah situasi mencekam tersebut, warga berusaha menyelamatkan anggota keluarga sebelum memikirkan harta benda. Salah satunya Sumitri. Perempuan ini memilih memastikan keselamatan orang-orang di sekitarnya ketimbang mempertahankan barang-barang yang berada di dalam rumah.

Keputusan tersebut menjadi gambaran bagaimana kepanikan saat kebakaran dapat berubah menjadi perjuangan untuk menyelamatkan nyawa. Ketika api semakin membesar, prioritas warga bukan lagi menyelamatkan perabotan, melainkan membawa keluarga keluar dari lokasi yang berbahaya.

Salah satu momen yang cukup mengharukan terjadi ketika seorang cucu Sumitri yang masih berusia sekitar 7 bulan harus segera dievakuasi dari lokasi. Bayi tersebut menjadi salah satu anggota keluarga yang paling rentan sehingga keselamatannya menjadi perhatian utama.

Dalam kondisi serba terbatas, upaya penyelamatan dilakukan secepat mungkin. Bayi yang masih sangat kecil itu berhasil dibawa menuju tempat yang lebih aman sebelum api semakin mendekat.

Bukan hanya bayi, seorang nenek yang sudah lanjut usia juga harus diselamatkan. Karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bergerak cepat, nenek tersebut dievakuasi dengan cara diseret menuju lokasi yang dianggap lebih aman dari jangkauan api.

Peristiwa itu menggambarkan kepanikan sekaligus solidaritas warga ketika menghadapi musibah. Dalam hitungan waktu, warga harus mengambil keputusan cepat untuk memastikan anak-anak, lansia dan anggota keluarga lainnya tidak terjebak dalam kepungan api.

Kebakaran yang menghanguskan 21 rumah tersebut juga menyebabkan warga kehilangan tempat tinggal dan berbagai barang berharga. Api yang membesar membuat sebagian penghuni tidak sempat membawa seluruh harta benda yang mereka miliki.

Namun bagi Sumitri dan warga lainnya, kehilangan barang masih dapat diterima dibandingkan kehilangan anggota keluarga. Keselamatan manusia menjadi hal yang tidak dapat digantikan dengan apa pun.

Kejadian di Kelurahan Pengantungan kembali menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di kawasan permukiman padat. Api dapat berkembang sangat cepat, terlebih ketika terdapat bangunan yang saling berdekatan dan material yang mudah terbakar.

Warga juga diharapkan mengetahui jalur keluar rumah dan memiliki langkah evakuasi sederhana, khususnya untuk menyelamatkan bayi, anak-anak, lansia maupun anggota keluarga yang memiliki keterbatasan bergerak.

Musibah tersebut tidak hanya meninggalkan kerugian materi, tetapi juga menyisakan duka bagi puluhan keluarga yang terdampak. Mereka kini membutuhkan perhatian dan dukungan untuk kembali menjalani kehidupan setelah kehilangan tempat tinggal.

Di balik kepulan asap dan rumah-rumah yang terbakar, kisah Sumitri menyampaikan pesan sederhana namun kuat: ketika musibah datang, nyawa manusia harus menjadi prioritas utama. Barang yang hilang masih mungkin dicari atau diganti, tetapi keselamatan keluarga tidak ternilai.

                                                                                                                                     Penulis : Ameng