TEROPONGPUBLIK.CO.ID – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Bengkulu terus memperkuat langkah strategis guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui pengoptimalan program Aksi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif sebagai instrumen utama pengendalian inflasi daerah.
Komitmen tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Rapat Koordinasi High Level Meeting TPID Provinsi Bengkulu yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu pada Selasa (9/6/2026). Pertemuan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia, hingga instansi terkait yang berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menegaskan bahwa tren kenaikan harga sejumlah komoditas pangan harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Menurutnya, pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga vertikal, distributor, dan pelaku usaha.
“Kenaikan harga pangan harus menjadi perhatian bersama. Melalui implementasi Aksi 4K, kita berupaya memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau, pasokan yang cukup, distribusi yang lancar, serta informasi yang transparan,” ujarnya.
Berdasarkan data terbaru, inflasi Provinsi Bengkulu secara tahunan atau year on year (yoy) tercatat sebesar 3,01 persen. Angka tersebut masih berada dalam rentang yang perlu terus diawasi agar tidak berdampak pada daya beli masyarakat.
Dalam rapat tersebut, TPID juga memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di empat daerah, yakni Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Bengkulu Selatan. Keempat wilayah tersebut menjadi fokus pemantauan karena memiliki pengaruh terhadap dinamika harga komoditas pangan strategis.
Sebanyak 20 komoditas utama dipantau secara berkala, termasuk bawang merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, cabai rawit merah, cabai rawit hijau, serta berbagai bahan pangan lainnya yang memiliki kontribusi signifikan terhadap laju inflasi.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, memaparkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Mei 2026. Secara bulanan atau month to month (mtm), kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 1,85 persen dengan kontribusi terhadap inflasi keseluruhan mencapai 0,61 persen.
Menurut Wahyu, komoditas cabai merah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi dengan andil sebesar 0,43 persen. Selain itu, minyak goreng turut memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,06 persen. Sebaliknya, komoditas daging ayam ras justru membantu menahan laju inflasi dengan kontribusi negatif sebesar 0,11 persen.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga cabai merah terjadi akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi hortikultura. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan penurunan kualitas hasil panen serta berkurangnya volume produksi yang masuk ke pasar.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak goreng dipengaruhi oleh meningkatnya harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional. Faktor tambahan berupa kenaikan biaya distribusi dan pengemasan juga turut mendorong harga jual di tingkat konsumen.
Sebaliknya, harga daging ayam ras mengalami penurunan karena produksi peternakan yang meningkat, biaya operasional yang lebih rendah, serta bertambahnya pasokan dari daerah lain yang masuk ke Bengkulu.
Untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga pada bulan-bulan mendatang, TPID Bengkulu telah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya adalah pelaksanaan operasi pasar, pasar murah, penguatan koordinasi lintas sektor, serta pemetaan komoditas penyumbang inflasi di setiap kabupaten dan kota.
Selain itu, masyarakat kini dapat memantau perkembangan harga kebutuhan pokok secara langsung melalui aplikasi Ben Connect. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bengkulu, Nelly Alesa, menyebutkan bahwa aplikasi tersebut menjadi sarana informasi harga komoditas secara real time sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat dan terkini.
Melalui sinergi seluruh pihak dan penguatan implementasi Aksi 4K, Pemerintah Provinsi Bengkulu optimistis stabilitas harga dapat terus terjaga. Langkah ini diharapkan mampu mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah berbagai tantangan ekonomi dan cuaca yang memengaruhi sektor pangan.
Rapat koordinasi tersebut ditutup dengan penandatanganan berita acara sebagai simbol komitmen bersama seluruh anggota TPID dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di Provinsi Bengkulu secara berkelanjutan.SEO Title: TPID Bengkulu Perkuat Aksi 4K Kendalikan Inflasi, Harga Cabai Merah Jadi Pemicu Utama
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra