Skip to main content

Cara Klasik Strategi Ritual Paslon

BENGKULU.TEROPONGPUBLIK.CO.ID>><<Pesta Pemilihan kepala Daerah tinggal menghitung hari,Semua partai politik sudah mulai menyusun strategi untuk  sang Calon Menjadi pemenang,baik itu partai pengusung dan juga kader partainya yang Mencalon. Mesin-mesin partai mulai panas dan calon Kepala Daerah sudah mulai “berkeliaran” menyusun stretegi untuk merebut kursi Gubernur dan wakil gubernur dan kursi Bupati dan wakil Bupati.

Banyak calon yang sudah memainkan strategi untuk mengambil hati rakyat, ada banyak cara yang dilakukan oleh calon  untuk mengambil hati rakyat, tapi kebanyakan cara-cara klasik yang di lakukan.

Tim-tim Sukses Mulai bergeleria dari pemasangan bailho,bagi -bagi kalender mendatangi masyarakat dari rumah kerumah, sosialisasi dari warung-warung dan dimanapun mereka berada,tidak kemungkinan juga didalam rumah ibadah.Itulah namanya tim sukses ataupun timnya yang sukses.

Perang dimedia Sosial itu sudah menjadi strategi Tim,ada yang selalu memajang Poto sicalon.ada menghujat,ada yang menjelek-jelek sang lawan,dan adapun yang berantam demi membelah sang jagoannya, menebarkan Berita Hoax,dengan menggunakan Akun-akun palsu yang mereka gunakan.Tak hanya itu Media massa Baik itu.Tv .cetak, Online mengkemas berita sebaik-baiknya agar bisa menarik perhatian pembaca dan meningkat viewer dimedianya.

Kedua Calon sudah di sibukkan dengan blusukan ke daerah-daerah pemilihan, ada yang belum pernah ke desa-desa sekarang sudah  mau menemui masyarakat pedesaan, ada yang dikenal warga desa tidak pernah sosialisai sekarang sudah ramah, ketika  pergi menemui warga desa dengan senyum “Manis” selalu mengiringi agar kelihatan ramah dan baik, padahal entah senyuman itu manis atau hanya senyuman mencari simpatisan

Saya pikir strategi ini sudah menjadi ritual bagi para Sicalon yaitu “janji-janji manis” untuk meningktakan kesejahteraan, meningkatkan ekonomi, menyerap dan menyalurkan aspirasi, mungkin Ada juga yang sudah menyiapkan untuk melakukan “serangan fajar” bagi yang memiliki kocek tebal.

Sayang seribu sayang, kita melihat mereka telah duduk dan mimimpin banyak yang mendadak amnesia, entah lupa, pura-pura lupa, terlupakan atau memang sengaja di lupakan yang jelas kalau sudah “posisi wenak” di Kursi Empuk banyak yang lupa ingatan.

Dulu senyum-senyum pas ketemu rakyat, pas terpilih jangankan senyum, lewat aja kaca mobil tertutup rapat, dulu menjelang pemilihan banyak yang blusukan ke desa-desa, pas terpilih jangankan blusukan menampakkan batang hidungnya pun tidak pernah lagi.

Sangat di sayangkan “baik” hanya pas pemilihan saja, hal Ini menurut saya menjadi pelajaran bagi kita, untuk tidak memilih Sang calon seperti itu.(Opini Redaksi)