TEROPONGPUBLIK.CO.ID<<<>>> Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Bengkulu kembali berdampak pada sektor pertanian, khususnya komoditas cabai. Harga cabai di pasaran tercatat melonjak hingga menyentuh angka Rp80 ribu per kilogram. Lonjakan harga ini dipicu terganggunya distribusi dan rusaknya lahan pertanian cabai di berbagai kabupaten.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagrin) Kota Bengkulu melalui Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan, Jasya Arief, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu telah menurunkan produksi cabai secara signifikan. Menurutnya, hujan deras yang berlangsung hampir setiap hari, disertai dengan angin kencang, membuat banyak kebun cabai rusak dan gagal panen.
“Naiknya harga cabai ini murni karena faktor cuaca ekstrem. Distribusi cabai antarwilayah juga terhambat. Bahkan, beberapa kebun cabai di berbagai kabupaten mengalami kerusakan parah sehingga pasokan dari petani sangat berkurang,” ungkap Jasya, Kamis (11/9).
Ia menambahkan, situasi ini tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat. Cabai yang menjadi kebutuhan pokok sehari-hari sulit dijangkau karena harga melambung tinggi. Para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner pun terpaksa harus mengurangi penggunaan cabai atau mencari alternatif lain.
Mengantisipasi dampak jangka panjang, Disperdagrin mendorong masyarakat untuk melakukan gerakan menanam tanaman pangan cepat panen, termasuk cabai. Menurut Jasya, langkah ini bisa membantu menjaga ketersediaan cabai di tingkat rumah tangga, sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
“Gerakan tanam pangan cepat panen bisa dilakukan di pekarangan rumah masing-masing. Jika masyarakat terbiasa menanam cabai sendiri, setidaknya kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi tanpa harus terlalu bergantung pada pasokan pasar,” ujarnya.
Pemerintah juga membuka ruang kerja sama dengan kelompok tani dan penyuluh pertanian untuk memberikan edukasi kepada warga terkait cara menanam cabai secara sederhana. Dengan pola urban farming atau pertanian perkotaan, diharapkan masyarakat bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan bumbu dapur yang cenderung fluktuatif harganya.
Selain menggalakkan gerakan tanam cabai, Disperdagrin juga berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk menjaga kelancaran distribusi pangan. Dukungan transportasi, pemantauan harga, serta penyaluran dari daerah surplus ke daerah defisit menjadi langkah yang terus diperkuat agar gejolak harga bisa ditekan.
Jasya menegaskan, pihaknya terus memantau perkembangan harga cabai dan komoditas penting lainnya setiap hari. Data dari lapangan kemudian dilaporkan secara rutin untuk menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam mengambil kebijakan.
“Kami memahami keresahan masyarakat terhadap harga cabai yang tinggi. Namun, dengan kerja sama semua pihak, baik petani, pemerintah, maupun masyarakat, diharapkan kondisi ini bisa segera teratasi,” pungkasnya.
Lonjakan harga cabai akibat cuaca ekstrem bukanlah hal baru di Bengkulu. Namun, pemerintah berharap kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan dapat menjadi solusi jangka menengah dalam menghadapi gejolak harga komoditas pangan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra