TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<>> Gema takbir semakin syahdu mengalun di udara yang sunyi. Entah sudah berapa kali aku merasakan getaran yang sama, sejak pertama kali takbir berkumandang beberapa jam yang lalu. Namun, kali ini, rasanya lebih dalam. Lebih menyentuh.
"Ini sudah ke-44 kalinya aku merayakan Idul Fitri tanpa kehadiran Ayah," gumamku dalam hati. Sudah berhasil kukendalikan diriku, tetapi rupanya melankolis masih saja berhasil menyelinap ke dalam lubuk hatiku. Sebuah status dari seorang teman beberapa jam yang lalu menggugah perasaanku, "Takbir mulai berkumandang... aku merindukanmu, Ayah."
Ayah... Kata itu sendiri begitu sarat makna bagiku. Seorang teman pernah mengatakan bahwa doa anaklah yang akan menjadi jalan menuju cahaya bagimu di sana. Yang terpenting adalah doa yang tak pernah putus, doa yang tulus dari hati.
Dulu, saat Ayah sakit, kami selalu ziarah ke makamnya untuk mengirimkan doa dan membersihkan pusaranya. Namun, kali ini, mungkin anak-anakku telah menemukan cara berbeda untuk merasakan rindu pada Ayah.
Kami mungkin terpisah secara fisik, tapi hati kami tetap satu. Meskipun kematian adalah pintu menuju keabadian, kami menitipkan hukuman kerinduan dan ucapan selamat datang untukmu di sana, Ayah.
"Semoga Idul Fitri tidak hanya menjadi momen kebahagiaan, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk mengirimkan doa pada orang tua yang telah tiada," ucapku dalam hati, sambil menatap langit yang semakin gelap.
"Kami mencintaimu, Ayah. Tak akan pernah berubah, tidak peduli apa yang terjadi," tambahku lagi, sembari merasakan tangis haru yang mulai menghampiri.
Takbir masih terus berkumandang, mengalun hingga ke sudut-sudut rumah kami yang sunyi. Namun, kali ini, tak ada lagi kesedihan yang menghiasi hatiku. Hanya kebahagiaan karena aku yakin, Ayah juga merasakan cinta dan doa yang kami kirimkan padanya.
Meskipun lebaran sudah 44 kali ini terasa berbeda tanpa kehadiran Ayah, namun aku yakin, cahaya kasih sayangnya tetap hadir dalam setiap detik yang kami jalani. Dan di malam yang penuh berkah ini, doa-doaku akan selalu menyertaimu, Ayah. Selamat Idul Fitri, di surga sana.
Pewarta : Ameng