Skip to main content

Dari Ruang Kelas ke Lapangan Hijau, Mimpi Besar Pemain Muda

Dari Ruang Kelas ke Lapangan Hijau, Mimpi Besar Pemain Muda

TEROPONGPUBLIK.CO.ID- Atmosfer Stadion Semarak Sawah Lebar, Bengkulu, terasa lebih hidup saat Turnamen Sepak Bola Usia Dini U-11 digelar. Sorak sorai penonton, semangat para pemain cilik, serta antusiasme orang tua menjadi pemandangan yang mewarnai ajang pembinaan talenta muda tersebut.

Di antara banyaknya pemain yang berlaga, satu sosok mencuri perhatian karena permainan penuh determinasi dan kepercayaan diri yang ditunjukkannya. Ia adalah Razidan Al-Ghifari, bocah 10 tahun asal Kota Bengkulu yang mulai digadang-gadang sebagai calon pesepak bola masa depan daerah.

Razidan Al-Ghifari, yang akrab disapa Zidan, lahir di Kota Bengkulu pada 20 Januari 2016. Putra dari pasangan Iwan dan Novi ini telah akrab dengan sepak bola sejak usia sangat dini. Bagi Zidan, lapangan hijau bukanlah sesuatu yang asing, melainkan ruang bermain yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Kecintaannya pada si kulit bundar tumbuh secara alami di lingkungan keluarga yang memberikan dukungan penuh terhadap minat dan bakatnya.

Peran keluarga sangat besar dalam proses tumbuh kembang Zidan sebagai atlet muda. Bersama sang kakak, Raffa Effendi Akamaru, Zidan hampir setiap hari menghabiskan waktu bermain bola di halaman rumah. Aktivitas sederhana tersebut perlahan membentuk dasar teknik, keberanian, dan kecintaan mendalam terhadap sepak bola.

Orang tuanya pun selalu berupaya memberikan dukungan moral dan motivasi agar Zidan tetap semangat berlatih tanpa melupakan kewajiban sebagai pelajar.

Keseriusan Zidan dalam menekuni sepak bola semakin terlihat ketika ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda (IM). Akademi sepak bola ini dikenal aktif melakukan pembinaan pemain usia dini di Bengkulu dan dipimpin oleh Coach M. Nasir, sosok pelatih yang memiliki rekam jejak panjang serta pengalaman di dunia sepak bola nasional.

Di bawah arahan dan bimbingan pelatih berpengalaman, Zidan mendapatkan pelatihan terstruktur yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknik, tetapi juga kedisiplinan, kerja sama tim, serta mental bertanding.

Dalam Turnamen U-11 yang berlangsung di Stadion Semarak Sawah Lebar, Zidan tampil mengenakan nomor punggung 89. Meski masih berusia belia, ia mampu menunjukkan permainan yang energik, penuh keberanian, dan tidak mudah gentar menghadapi lawan. Kecepatan, naluri membaca permainan, serta kemauan untuk terus bergerak menjadi ciri khas penampilannya di lapangan.

Beberapa kali, Zidan terlihat aktif membantu serangan dan tak ragu melakukan duel untuk merebut bola.

Di luar aktivitas sepak bola, Zidan tetap menjalani perannya sebagai pelajar. Ia saat ini tercatat sebagai siswa kelas 4 di SDN 05 Kota Bengkulu. Bagi Zidan dan keluarganya, pendidikan formal tetap menjadi prioritas utama yang harus berjalan seimbang dengan kegiatan olahraga.

Manajemen waktu antara sekolah, latihan, dan istirahat menjadi kunci agar perkembangan akademik dan nonakademik dapat berjalan seiring.

Zidan menyimpan mimpi besar untuk suatu hari nanti menjadi pesepak bola profesional. Ia ingin terus belajar, berlatih, dan mengasah kemampuan agar dapat melangkah ke level yang lebih tinggi. Dengan bakat yang dimiliki, latihan yang konsisten, serta dukungan keluarga dan pelatih, harapan tersebut bukanlah hal yang mustahil untuk diraih.

Keikutsertaan Zidan dalam turnamen usia dini ini menjadi bukti bahwa pembinaan sepak bola sejak usia muda memiliki peran penting dalam mencetak generasi atlet berprestasi. Langkah-langkah kecil yang ia jalani hari ini diyakini dapat menjadi awal perjalanan panjang menuju prestasi yang lebih gemilang, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi masa depan sepak bola Bengkulu.
Pewarta: Amg
Edi: Adi Saputra