TEROPONGPUBLIK.CO.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mengadakan konferensi pers untuk menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) dan Asesmen Regional pada Jumat, 29 September 2023, di Lantai II Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Jalan A. Yani No. 1, Kota Bengkulu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Darjana, menjelaskan bahwa dalam RDG Bank Indonesia pada 20-21 September 2023, diputuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.
"Keputusan ini didasarkan pada asesmen terhadap kondisi perekonomian, kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, serta sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah," ungkap Darjana, Jumat (29/09/23).
Darjana juga menyampaikan bahwa perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan III 2023 diprakirakan akan tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Penurunan pertumbuhan ekonomi ini dipengaruhi oleh kenaikan tarif BBM non-subsidi, El Nino, peningkatan tarif angkutan laut, dan normalisasi permintaan pasca HBKN Idul Adha dan liburan sekolah.
"Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan terpengaruh lebih signifikan karena perubahan pola konsumsi yang lebih berhati-hati. Cuaca aneh dan ketersediaan pupuk yang belum membaik juga diperkirakan akan membatasi pertumbuhan sektor pertanian di tahun 2023," tambah Darjana.
Selanjutnya, Darjana mencatat bahwa tingkat inflasi Kota Bengkulu pada Agustus 2023 mencapai 3,40% (yoy), naik dari 3,23% (yoy) pada bulan sebelumnya. Kenaikan inflasi disebabkan oleh lonjakan harga beberapa komoditas, termasuk bensin, rokok kretek filter, dan beras. Ini terjadi karena penyesuaian harga bensin dan rokok kretek filter secara berkala, serta dampak El Nino yang mengakibatkan kekeringan di lahan sawah Provinsi Bengkulu.
"Inflasi tahun 2023 diperkirakan akan menurun menjadi sekitar 3,00 - 4,00% (yoy), sesuai dengan target nasional sebesar 3,0±1% (yoy). Penurunan ini akan didukung oleh penyesuaian harga BBM yang lebih rendah, upaya pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), dan penerapan harga acuan penjualan baru oleh BAPANAS dengan peran yang diperkuat dari BUMD dalam intervensi harga pangan.
Namun, Darjana juga mengingatkan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, seperti peningkatan mobilitas masyarakat yang didorong oleh insentif bansos, fenomena El Nino di semester II tahun 2023, ketidakpastian kondisi global, dan wacana penyesuaian tarif oleh pemerintah," demikian ungkap Darjana.
Penulis: Herdianson
Editor: Adi Saputra