Skip to main content

Lampu Hias Belungguk Point Hilang, Wali Kota Dedy Wahyudi Geram

Pemkot Bengkulu Soroti Pencurian Fasilitas di Belungguk Point

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>>  Ruang publik yang baru saja mempercantik wajah pesisir Kota Bengkulu, Belungguk Point, kini menghadapi ujian serius. Destinasi yang digadang-gadang menjadi magnet wisata sekaligus ruang interaksi warga itu justru tercoreng oleh aksi perusakan dan dugaan pencurian fasilitas.

Belum genap setahun sejak diresmikan sebagai ikon baru kota, sejumlah sarana di kawasan tersebut dilaporkan mengalami kerusakan. Informasi terbaru menyebutkan satu unit lampu hias yang terpasang di area taman hilang dan diduga dibawa kabur oleh orang tak dikenal. Kejadian ini menambah daftar persoalan vandalisme yang sebelumnya juga sempat ditemukan di lokasi yang sama.

Kondisi tersebut memicu keprihatinan banyak pihak, terutama pemerintah kota yang sejak awal menaruh harapan besar pada Belungguk Point sebagai simbol kebangkitan pariwisata Bengkulu. Kawasan yang dirancang dengan konsep ruang terbuka publik modern ini diharapkan menjadi tempat rekreasi keluarga, lokasi bersantai, hingga spot favorit bagi generasi muda untuk berkreasi dan berkegiatan positif.

Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, menyampaikan kekecewaannya atas insiden tersebut. Ia menilai tindakan perusakan dan pencurian fasilitas umum bukan hanya merugikan pemerintah daerah secara materiil, tetapi juga mencederai kepentingan masyarakat luas.

Menurutnya, setiap sudut dan fasilitas yang dibangun di Belungguk Point berasal dari anggaran daerah yang dihimpun dari pajak dan kontribusi masyarakat. Karena itu, keberadaannya sejatinya merupakan milik bersama yang harus dijaga dan dirawat secara kolektif.

“Kami sangat menyayangkan adanya tindakan tidak bertanggung jawab seperti ini. Fasilitas itu dibangun untuk dinikmati masyarakat. Sudah seharusnya kita rawat bersama, bukan justru dirusak atau diambil,” tegas Dedy.

Ia menambahkan, pemerintah kota tidak akan tinggal diam. Pihaknya telah meminta instansi terkait untuk melakukan evaluasi sistem pengamanan di kawasan tersebut. Upaya peningkatan pengawasan, termasuk kemungkinan penambahan kamera pemantau dan patroli rutin, sedang dipertimbangkan guna mencegah kejadian serupa terulang.

Lebih jauh, Dedy juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga aset publik. Ia menekankan pentingnya rasa memiliki terhadap fasilitas kota. Tanpa partisipasi warga, menurutnya, pembangunan yang telah dilakukan dengan susah payah akan sia-sia.

Belungguk Point sendiri sejak awal dirancang sebagai wajah baru tepian laut Kota Bengkulu. Kehadirannya membawa nuansa berbeda dengan penataan lanskap yang lebih modern, lampu-lampu dekoratif yang memperindah malam hari, serta area duduk yang nyaman bagi pengunjung. Pada akhir pekan, lokasi ini kerap dipadati warga yang ingin menikmati suasana sore hingga malam.

Namun, maraknya aksi vandalisme berpotensi mengurangi kenyamanan dan estetika kawasan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berdampak pada menurunnya minat kunjungan wisatawan lokal maupun luar daerah.

Sejumlah warga yang ditemui mengaku prihatin atas hilangnya lampu hias tersebut. Mereka berharap pelaku dapat segera terungkap dan diberi sanksi tegas agar menimbulkan efek jera. Warga juga mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan, terutama pada malam hari saat area relatif lebih sepi.

Pengamat sosial di Bengkulu menilai, persoalan vandalisme tidak bisa hanya diselesaikan melalui pendekatan keamanan semata. Diperlukan edukasi berkelanjutan untuk menumbuhkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga fasilitas umum. Kampanye sosial melalui sekolah, komunitas, dan media dinilai efektif untuk membangun budaya peduli lingkungan kota.

Di sisi lain, pemerintah kota memastikan bahwa perbaikan fasilitas yang rusak akan segera dilakukan agar wajah Belungguk Point tetap terjaga. Pemulihan lampu hias yang hilang juga akan menjadi prioritas agar pencahayaan kawasan tetap optimal, terutama demi keamanan pengunjung pada malam hari.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan fisik harus diiringi dengan pembangunan karakter masyarakat. Tanpa kesadaran bersama, ruang publik yang dirancang indah dan modern pun rentan rusak dalam waktu singkat.

Kini, harapan besar kembali disematkan pada kolaborasi antara pemerintah dan warga. Belungguk Point bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol kebersamaan dan kebanggaan kota. Menjaganya berarti menjaga citra dan masa depan pariwisata Bengkulu itu sendiri.

Perwarta : Amg

Editing : Adi Saputra