TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Pemerintah Kabupaten Kepahiang mulai mematangkan penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten (RIPARKAB) untuk periode 2025–2045. Langkah strategis ini ditandai dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Kabupaten Kepahiang, dan dihadiri langsung oleh Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata, S.IP bersama Wakil Bupati Ir. Abdul Hafizh, M.Si.
Turut hadir dalam forum tersebut Ketua DPRD Kabupaten Kepahiang Gregory Dayefiandro, SE., M.Si, anggota Komisi II DPRD Eko Susilo, Kepala Dinas Pariwisata Rudi Andi Sihaloho, para camat, serta perwakilan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dari seluruh kecamatan.
Dalam sambutannya, Bupati Zurdi Nata menyatakan bahwa dokumen RIPARKAB akan menjadi panduan utama dalam merancang arah pembangunan sektor pariwisata Kabupaten Kepahiang selama dua dekade ke depan. Ia menegaskan bahwa pembangunan kepariwisataan bukan hanya bertujuan mempercantik destinasi, tetapi juga menjadi instrumen dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.
"RIPARKAB ini sangat penting sebagai acuan pembangunan destinasi wisata ke depan. Kami mendukung penuh proses penyusunan dokumen ini, karena diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata,” ujar Zurdi Nata.
Menurutnya, sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat lokal. Bila dikelola dengan baik dan berkelanjutan, pariwisata akan berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan pelaku usaha dan UMKM di sekitar destinasi.
Senada dengan itu, Ketua DPRD Kepahiang Gregory Dayefiandro menambahkan bahwa pengembangan sektor pariwisata harus dirancang dengan strategi yang matang, terutama dalam aspek pencitraan dan promosi.
“Branding menjadi hal penting. Kita perlu membangun citra Kepahiang sebagai daerah yang aman, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi. Branding yang kuat akan mendorong wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk datang,” kata Gregory.
Ia juga menekankan perlunya kalender event tahunan yang disusun secara profesional dan terkoordinasi agar kegiatan pariwisata dapat berlangsung secara konsisten dan menarik perhatian publik secara berkala. Beberapa contoh event yang dinilai bisa diangkat sebagai daya tarik antara lain Festival Budaya Daerah saat Hari Ulang Tahun Kabupaten, Festival Umbung Kutei, Festival Kopi Kepahiang, hingga Festival Mountain Valley.
“Dengan kalender event yang tertata, kita bisa mengatur waktu dan lokasi kegiatan agar tidak saling bertabrakan, sehingga promosi bisa dilakukan secara maksimal. Ini juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor,” jelasnya.
Gregory juga mengingatkan bahwa konsep pembangunan pariwisata ke depan harus berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal. Menurutnya, potensi wisata alam dan budaya di Kepahiang sangat kaya, namun perlu dikemas dan dikelola dengan cara yang modern namun tetap menjaga keaslian dan keunikan lokalitas.
“Jika kita bisa mengelola pariwisata secara bijak, maka akan tercipta dampak ekonomi yang nyata, termasuk peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga pelestarian budaya dan lingkungan,” tambahnya.
FGD ini juga menghadirkan dua narasumber dari IAIN Curup yang memberikan pandangan akademik dan masukan strategis untuk penyusunan RIPARKAB. Narasumber tersebut adalah Prof. Mohammad Istan dan Prof. Dr. H. Hamengkubuwono, M.Pd. Keduanya memberikan analisis mendalam terkait pentingnya perencanaan partisipatif dalam pembangunan kepariwisataan serta pentingnya integrasi antara kebijakan daerah dengan aspirasi masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Hamengkubuwono menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pariwisata sangat tergantung pada komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan pariwisata sangat penting. Tanpa partisipasi aktif, destinasi wisata tidak akan berkembang secara optimal,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kepahiang, Rudi Andi Sihaloho menambahkan bahwa FGD ini merupakan bagian awal dari proses panjang penyusunan RIPARKAB, yang nantinya akan melibatkan berbagai pihak termasuk akademisi, praktisi, pelaku usaha, serta komunitas lokal.
“Kita berharap RIPARKAB 2025–2045 ini menjadi dokumen yang komprehensif dan aplikatif, serta mampu menjadi arah kebijakan yang mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kepahiang,” kata Rudi.
Dengan dilaksanakannya FGD ini, Pemerintah Kabupaten Kepahiang menunjukkan komitmennya dalam membangun sektor pariwisata secara terstruktur dan strategis, demi menjadikan Kepahiang sebagai destinasi wisata unggulan di Provinsi Bengkulu.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra