TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<>>> Walikota Bengkulu, Dedy Wahyudi, bersama Wakil Walikota Ronny PL Tobing meninjau Pasar Barukoto II beberapa hari lalu. Dalam kunjungan tersebut, mereka mendengar berbagai keluhan dari para pedagang yang berharap adanya solusi dari pemerintah daerah. Keluhan yang disampaikan meliputi masalah infrastruktur seperti atap bocor, siring, meja dagang, serta penerangan. Namun, keluhan utama para pedagang adalah sepinya pembeli di pasar tersebut.
Salah satu pedagang ikan asin, Rahmat (36), mengungkapkan bahwa aktivitas jual beli di Pasar Barukoto II semakin menurun. "Di sini baru jam sembilan pagi sudah sepi. Penyebabnya karena transportasi umum, seperti angkot, sudah tidak masuk ke sini lagi. Dulu, ketika angkot masih memiliki rute ke sini dan bisa ngetem, pembeli lebih ramai. Kalau bisa, kami meminta bantuan Pak Walikota agar transportasi bisa masuk lagi," ujar Rahmat dengan logat khas Bengkulu.
Menanggapi hal ini, Walikota Dedy Wahyudi menyatakan akan mencari solusi dan segera berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Bengkulu. "Soal transportasi umum di Pasar Barukoto II, nanti kalau memungkinkan kita minta Dinas Perhubungan membuat rute angkot agar bisa kembali melintasi kawasan ini. Mudah-mudahan ada solusi, Insya Allah," kata Dedy.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bengkulu, Hendri Kurniawan, yang diwawancarai secara terpisah, menjelaskan bahwa pihaknya akan berusaha menjalin kerja sama dengan sektor usaha transportasi untuk mengatasi persoalan ini. Menurutnya, mengembalikan rute angkot ke Pasar Barukoto II cukup sulit karena saat ini angkot dengan sistem lima warna yang dulu beroperasi di kawasan tersebut sudah tidak lagi melintasi jalur itu.
"Saat ini, jumlah angkot yang terdaftar hanya sekitar 78 unit, dan itu pun sudah tidak lagi beroperasi dalam jalur tetap. Salah satu solusi yang bisa ditempuh adalah menghadirkan angkutan publik seperti bus yang operasinya disubsidi oleh pemerintah. Namun, berdasarkan koordinasi kami dengan Kementerian Perhubungan, subsidi semacam ini masih sulit direalisasikan karena keterbatasan APBD," jelas Hendri.
Sebagai alternatif, Hendri mengungkapkan bahwa pihaknya akan mencoba mencari sektor usaha transportasi yang bisa diajak bekerja sama dengan pemerintah daerah. Model kerja sama ini bisa berupa pengadaan kendaraan oleh pihak swasta, sementara pemerintah memberikan subsidi agar tarif tetap terjangkau bagi masyarakat.
"Kami sedang mengkaji kemungkinan adanya transportasi publik dengan tarif tetap, misalnya Rp 5.000 untuk semua rute, baik jarak jauh maupun dekat. Langkah ini masih dalam tahap kajian dan akan disesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah," tambahnya.
Dengan berbagai upaya yang sedang dipertimbangkan, diharapkan Pasar Barukoto II kembali ramai dan memberikan dampak positif bagi para pedagang serta masyarakat sekitar.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra