Skip to main content

Sejak Berdiri, Tomoro Coffee Belum Kucurkan Dana CSR

Sejak Berdiri, Tomoro Coffee Belum Kucurkan Dana CSR

TEROPONGPUBLIK.CO.ID — Potensi komoditas kopi di Provinsi Bengkulu dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan, terutama pada jenis kopi arabika. Kondisi geografis sejumlah wilayah di Bengkulu yang memiliki kawasan dataran tinggi menjadi modal penting untuk meningkatkan kualitas sekaligus memperluas pasar kopi daerah.

Owner Tomoro Coffee Bengkulu, Arbi, mengatakan perkembangan industri kopi di Bengkulu dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang cukup positif. Menurutnya, kopi Bengkulu tidak hanya memiliki pasar di tingkat nasional, tetapi mulai mendapatkan perhatian melalui keterlibatan pelaku usaha dan barista dalam berbagai kompetisi kopi bertaraf internasional.

Arbi menyebut salah satu pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian adalah pengembangan kopi arabika. Jenis kopi tersebut memiliki karakteristik budidaya yang membutuhkan kondisi geografis tertentu, salah satunya berada di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Potensi kita untuk arabika sebenarnya ada. Saya beberapa kali turun langsung melihat kondisi lahan dan memang ada peluang untuk dikembangkan,” ujar Arbi.

Ia menjelaskan, kawasan Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong mempunyai sejumlah wilayah dataran tinggi yang berpotensi mendukung pengembangan arabika. Namun, luasan lahan yang memenuhi persyaratan ketinggian menjadi salah satu faktor yang membuat produksi arabika di Bengkulu belum maksimal.

Karena itu, menurut Arbi, diperlukan langkah bersama antara pemerintah, pelaku usaha, petani dan pihak terkait untuk mengidentifikasi kawasan yang benar-benar potensial. Pengembangan tersebut tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga kualitas biji kopi sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Tomoro Coffee sendiri tergolong pemain yang relatif baru dalam perkembangan bisnis kopi di Indonesia. Di Bengkulu, Tomoro Coffee mulai bergabung pada 2023 dan hingga kini terus memperluas keberadaannya.

Di wilayah Kota Bengkulu, gerai Tomoro Coffee telah hadir di sejumlah lokasi, di antaranya kawasan Lingkar Barat, Jalan Jati, Jalan MT Haryono dan Curup. Sementara untuk wilayah Lubuklinggau, saat ini terdapat satu gerai.

Secara nasional, jaringan Tomoro Coffee telah berkembang hingga lebih dari 650 gerai. Besarnya jaringan tersebut secara otomatis menciptakan kebutuhan bahan baku kopi yang juga cukup tinggi.

Arbi menggambarkan kebutuhan tersebut sebagai sebuah peluang besar bagi daerah penghasil kopi. Satu gerai saja dapat menggunakan kopi dalam jumlah yang cukup signifikan setiap harinya. Dengan jumlah gerai yang mencapai ratusan, kebutuhan bahan baku menjadi sangat besar dan berlangsung secara berkelanjutan.

Saat ini, pasokan kopi untuk kebutuhan Tomoro Coffee berasal dari beberapa sentra produksi di Indonesia, termasuk Aceh, Pulau Jawa dan Sulawesi.

Arbi menilai kondisi tersebut seharusnya dapat menjadi momentum bagi petani kopi Bengkulu untuk meningkatkan kualitas hasil perkebunan. Jika kualitas, konsistensi dan kapasitas produksi mampu memenuhi standar industri, bukan tidak mungkin kopi Bengkulu mendapatkan ruang yang lebih besar dalam rantai pasok perusahaan kopi berskala nasional.

Selain pengembangan pasokan, Tomoro Coffee juga mulai menjalankan berbagai pendekatan yang berhubungan langsung dengan petani. Salah satunya melalui kegiatan yang melibatkan pelaku kopi berprestasi, termasuk Muhammad Aga yang dikenal sebagai salah satu juara kompetisi kopi internasional.

Tomoro Coffee juga disebut memiliki program Tomorfosis yang mulai diarahkan untuk mendekatkan perusahaan dengan petani. Program tersebut sebelumnya telah dilakukan di Bali dan menjadi bagian dari upaya perusahaan memahami kondisi serta kebutuhan petani secara langsung.

Untuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di Bengkulu, Arbi mengatakan pihaknya masih akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan manajemen pusat.

Ia berharap ke depan terdapat peluang kolaborasi yang lebih besar antara perusahaan, pemerintah daerah dan petani kopi Bengkulu. Dengan kolaborasi tersebut, pengembangan kopi tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Menurutnya, Bengkulu memiliki modal alam dan sumber daya manusia untuk menjadi salah satu daerah penghasil kopi berkualitas. Tantangannya kini adalah bagaimana potensi tersebut dikelola secara konsisten, terukur dan berkelanjutan.
Pewarta: Amg
Editing: Adi Saputra