TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Pemerintah Provinsi Bengkulu berencana mengusulkan pemindahan makam Ibu Negara pertama Indonesia, Fatmawati Soekarno, dari Jakarta ke Bengkulu sebagai tanah kelahirannya. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat pelestarian sejarah nasional sekaligus mengangkat identitas daerah Bumi Merah Putih sebagai bagian penting perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Rencana tersebut dibahas dalam rapat yang digelar di Ruang Rapat Merah Putih, Kantor Gubernur Bengkulu, Rabu (6/5). Pertemuan dipimpin Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar, bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Agenda utama rapat adalah pembentukan tim kajian yang akan mendalami aspek administratif, historis, hingga sosial budaya terkait rencana pemindahan makam tersebut.
Dalam rapat tersebut, Khairil Anwar menegaskan bahwa usulan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Bengkulu. Pemerintah daerah ingin menghadirkan simbol sejarah yang lebih dekat dengan masyarakat Bengkulu, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat sejarah perjuangan bangsa.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur, kami mengusulkan agar makam Ibu Fatmawati dapat dipindahkan ke Bengkulu, tanah kelahiran beliau,” ujar Khairil.
Ia menjelaskan, proses pemindahan makam tentu tidak bisa dilakukan secara sepihak. Pemerintah daerah akan menempuh mekanisme resmi dengan mengajukan permohonan kepada pihak keluarga serta berkoordinasi dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia sebagai pihak yang berwenang dalam pengelolaan makam tokoh nasional.
Selain itu, tim kajian yang akan dibentuk juga bertugas memastikan seluruh aspek dipertimbangkan secara matang, termasuk nilai historis, etika, hingga kesiapan lokasi pemindahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa rencana ini dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap jasa dan warisan sejarah Fatmawati.
Rencananya, lokasi pemindahan makam akan berada di kawasan Taman Remaja Kota Bengkulu. Kawasan tersebut akan direvitalisasi menjadi area terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan terakhir tokoh bangsa, tetapi juga sebagai destinasi wisata sejarah dan ruang publik yang representatif.
Di kawasan itu, pemerintah merancang pembangunan berbagai fasilitas pendukung, seperti masjid, jogging track, ruang terbuka hijau, hingga sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan konsep tersebut, kawasan diharapkan menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus destinasi edukasi sejarah bagi generasi muda.
Fatmawati Soekarno sendiri merupakan sosok penting dalam sejarah Indonesia. Ia dikenal luas sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih, bendera pusaka yang dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ia juga merupakan istri Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Kisah hidup Fatmawati tidak bisa dilepaskan dari Bengkulu. Ia lahir pada 5 Februari 1923 sebagai putri dari tokoh Muhammadiyah, Hasan Din, dan Siti Chodijah. Pertemuannya dengan Soekarno terjadi saat sang proklamator menjalani masa pengasingan di Bengkulu oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari pertemuan tersebut, keduanya kemudian menikah pada 1 Juni 1943.
Peran Fatmawati dalam perjuangan kemerdekaan menjadi simbol penting keterlibatan perempuan dalam sejarah bangsa. Tidak hanya sebagai pendamping presiden, ia juga berkontribusi langsung melalui keterampilannya menjahit bendera pusaka yang menjadi simbol kedaulatan Indonesia.
Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu situs penting yang sering dikunjungi masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya.
Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap, jika rencana pemindahan makam ini mendapat persetujuan, maka akan memberikan dampak positif bagi daerah. Selain memperkuat nilai sejarah dan identitas lokal, keberadaan makam Fatmawati di Bengkulu juga diyakini mampu meningkatkan daya tarik wisata sejarah dan budaya.
Lebih jauh, langkah ini juga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk lebih mengenal tokoh-tokoh penting bangsa, sekaligus menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap sejarah Indonesia.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra