TEROPONGPUBLIK.CO.ID <<<>>> Pemerintah Kota Bengkulu terus memperkuat langkah menuju pembangunan yang ramah lingkungan dengan berpartisipasi dalam Forum Kota Menuju Transisi Energi Berkelanjutan yang berlangsung di Hotel Santika, Kota Medan, Kamis (2/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Tahun 2026, yang mempertemukan para perencana pembangunan daerah dari berbagai kota di Indonesia.
Kehadiran Pemerintah Kota Bengkulu dalam forum tersebut menjadi bukti keseriusan daerah dalam mendukung agenda nasional pengurangan emisi karbon sekaligus mempercepat transformasi menuju penggunaan energi yang lebih bersih dan efisien.
Mewakili Bappeda Kota Bengkulu, Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (P2EPD), Laura Titut Tejawahyuni, mengikuti seluruh rangkaian diskusi yang membahas strategi percepatan transisi energi di tingkat pemerintah daerah.
Forum ini menghadirkan berbagai narasumber yang membahas tantangan sekaligus peluang pembangunan rendah karbon, terutama melalui upaya dekarbonisasi sektor bangunan yang selama ini menjadi salah satu penyumbang konsumsi energi terbesar di kawasan perkotaan.
Salah satu materi utama yang dibahas adalah penerapan Indeks Kota Menuju Energi Berkelanjutan atau Indeks Energi Kota. Instrumen tersebut dirancang sebagai alat ukur untuk mengetahui tingkat kesiapan pemerintah daerah dalam mengembangkan kebijakan energi berkelanjutan serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
Melalui indeks tersebut, setiap pemerintah kota dapat melakukan evaluasi terhadap berbagai indikator penting, mulai dari efisiensi penggunaan energi, pemanfaatan energi baru terbarukan, kualitas regulasi daerah, kesiapan kelembagaan, hingga dukungan pembiayaan terhadap program-program energi hijau.
Hasil pengukuran itu nantinya menjadi dasar dalam menentukan arah kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran. Pemerintah daerah juga dapat memanfaatkan data tersebut untuk mengevaluasi efektivitas program yang telah dijalankan sekaligus menyusun strategi baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Dalam forum tersebut juga dijelaskan bahwa keberadaan Indeks Energi Kota mampu mendorong lahirnya kebijakan yang lebih progresif, seperti penyempurnaan regulasi bangunan hemat energi, pemberian insentif bagi penggunaan energi ramah lingkungan, hingga pengembangan proyek percontohan berbasis teknologi hijau di kawasan perkotaan.
Selain berfungsi sebagai instrumen evaluasi, indeks tersebut juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi. Daerah yang memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan akan lebih mudah memperoleh dukungan pendanaan dari berbagai lembaga pembiayaan nasional maupun internasional.
Sejumlah skema pembiayaan hijau yang diperkenalkan dalam forum meliputi green bonds, Energy Service Company (ESCO), dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga blended finance yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah dalam meningkatkan efisiensi energi pada bangunan pemerintah maupun sektor swasta.
Para peserta forum juga memperoleh berbagai informasi mengenai perkembangan teknologi yang dapat diterapkan untuk mendukung penghematan energi. Teknologi tersebut antara lain sistem smart metering, Building Management System (BMS), pemasangan panel surya atap, sistem penyimpanan energi, hingga platform digital yang mampu memantau konsumsi energi secara real time.
Penerapan inovasi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi sekaligus menekan biaya operasional gedung dalam jangka panjang. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi modern juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan kota yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
Tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, forum turut menekankan pentingnya penguatan tata kelola pemerintahan. Seluruh pemerintah kota didorong mengintegrasikan indikator Indeks Energi Kota ke dalam berbagai dokumen perencanaan daerah, termasuk RPJMD, kebijakan tata ruang, hingga regulasi mengenai standar bangunan hijau.
Langkah tersebut diyakini akan menjadikan target pengurangan emisi karbon tidak sekadar menjadi program jangka pendek, melainkan bagian dari kebijakan pembangunan daerah yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan.
Melalui keikutsertaan dalam Forum Kota Menuju Transisi Energi Berkelanjutan, Pemerintah Kota Bengkulu diharapkan mampu memperkuat kapasitas perencanaan pembangunan yang lebih adaptif terhadap isu perubahan iklim. Selain itu, forum ini menjadi kesempatan bagi Kota Bengkulu untuk mempelajari praktik-praktik terbaik dari berbagai daerah lain dalam membangun kota yang lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi di masa depan.
Pewarta : Amg
Editing : Adi Saputra