Skip to main content

Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai Merugikan Ekonomi Bengkulu

Krisis Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai Merugikan Ekonomi Bengkulu.Jumat(27/12)(amg - teropongpublik.co.id)

TEROPONGPUBLIK.CO.ID  <<<>>   Pelabuhan Pulau Baai di Provinsi Bengkulu kini menghadapi permasalahan pendangkalan yang semakin kritis sejak 2018. Kondisi ini telah berdampak serius terhadap distribusi kebutuhan pokok, seperti bahan bakar minyak dan beras, serta mengakibatkan penurunan drastis kapasitas ekspor komoditas unggulan.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Rosjonsyah, menggelar rapat koordinasi bersama General Manager Regional II PT Pelindo, Kapolda Bengkulu, Danlanal Bengkulu, serta perwakilan instansi lainnya untuk membahas solusi terhadap krisis ini. Rapat tersebut dilaksanakan di kantor PT Pelindo Regional II, diikuti dengan kunjungan langsung ke lokasi pelabuhan. “Dulu kedalaman alur pelabuhan mencapai 7–11,5 meter, tetapi kini hanya tersisa 1,5 meter. Bahkan sebagian kolam breakwater telah berubah menjadi daratan pasir,” jelas Rosjonsyah.

Kondisi ini, menurutnya, telah menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar, mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah setiap tahun. “Saya mendesak semua pihak terkait untuk segera menemukan solusi agar masalah ini tidak terus berulang,” tegasnya.

General Manager PT Pelindo Regional II, S. Joko, menjelaskan bahwa sedimentasi tinggi akibat cuaca buruk menjadi penyebab utama pendangkalan. Hal ini mengakibatkan kapal-kapal besar kesulitan untuk masuk dan keluar pelabuhan. Dampaknya, kapasitas angkut barang menurun drastis, menghambat aktivitas ekspor, dan memperlambat pengiriman barang.

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah ekspor batu bara. Jika sebelumnya pelabuhan mampu mengirimkan hingga 10 juta ton batu bara per tahun, kini jumlah tersebut anjlok menjadi hanya 3 juta ton. Pengangkutan pun harus dilakukan secara tidak efisien, menggunakan tongkang untuk memindahkan barang ke kapal besar di tengah laut. Selain batu bara, komoditas lain seperti cangkang sawit, hasil laut, dan rumput laut juga mengalami kendala serupa.

Kondisi ini menuntut langkah cepat dan konkret dari pemerintah serta pihak-pihak terkait untuk mengembalikan fungsi strategis Pelabuhan Pulau Baai. Upaya perbaikan mendesak perlu dilakukan guna meminimalkan dampak negatif terhadap perekonomian daerah. Penanganan jangka panjang, termasuk pengerukan kolam dan perbaikan infrastruktur, harus segera menjadi prioritas untuk memastikan pelabuhan dapat kembali beroperasi secara optimal.

Krisis pendangkalan ini bukan hanya tantangan teknis, tetapi juga ujian bagi kerja sama lintas instansi dalam menjaga keberlanjutan roda ekonomi Bengkulu. Dengan sinergi yang kuat dan tindakan tepat waktu, diharapkan Pelabuhan Pulau Baai dapat kembali menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi regional dan nasional.

Pewarta : Amg

Editing : Adi Saputra